Bersatu untuk Indonesia Raya


hjcyjfctuBaru saja kita merayakan hari kemerdekaan kita yang ke 67. Kemerdekaan bangsa kita direbut melalui suatu perjuangan yang lama, yang berpuncak pada perang kemerdekaan dari 17 Agustus 1945 hingga kedaulatan diserahkan kepada kita pada tahun 1950.Adalah fakta sejarah, bahwa semua unsur rakyat Indonesia terlibat dalam perjuangan tersebut. Perjuangan kemerdekaan kita adalah perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Pejuang-pejuang berikut ini saya ambil sebagai contoh bahwa anak bangsa Indonesia dari berbagai suku, berbagai daerah, berbagai ras dan berbagai agama telah memberikan pengorbanan tertinggi, yaitu jiwa dan raga mereka kepada bangsa dan negara Indonesia, untuk Indonesia merdeka.

• Letkol I Gusti Ngurah Rai

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, atas inisiatif sendiri I Gusti Ngurah Rai datang ke Jakarta untuk menghadap Panglima Besar Jendral Sudirman dan meminta mandat untuk membentuk pasukan TRI (Tentara Republik Indonesia) di daerah Bali dan Nusa Tenggara, daerah yang pada saat itu disebut Sunda Kecil. Ia kemudian kembali, merekrut pasukan dan mulai melakukan serangan-serangan terhadap pos-pos Belanda di Bali.Menjelang September 1946, Belanda melakukanoffensive yang pada tanggal 19 November 1946 berhasil mendekati posisi pasukan yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai sendiri. Pada saat itu, Letkol I Gusti Ngurah Rai menjabat Komandan Resimen TRI Sunda Kecil (setingkat Pangdam pada saat ini).

Setelah berhasil mengepung pasukan Ngurah Rai di Desa Margarana, Belanda sempat mengirim utusan untuk meminta Letkol I Gusti Ngurah Rai menyerah dengan pasukannya. Apabila ia menyerah, ia dan pasukannya akan dibiarkan hidup. Namun ultimatum Belanda dijawab oleh I Gusti Ngurah Rai dengan teriakan “puputan” yang berarti “bertempur sampai titik darah penghabisan”. Pertempuran terjadi sejak pagi dengan sangat hebat, dan baru berakhir pada sore harinya. Pasukan TRI gugur semua – termasuk Komandan Resimen TRI Sunda Kecil I Gusti Ngurah Rai bersama kepala staff beliau, Mayor I Gusti Putu Wisnu. Sikap dan tindakan Letkol I Gusti Ngurah Rai membuktikan patriotisme mereka tidak hanya mereka kumandangkan di mulut tetapi mereka buktikan dengan darah mereka yang telah membasahi bumi pertiwi. Letkol I Gusti Ngurah Rai kebetulan beragama Hindu.

• Robert Wolter Monginsidi

Pada tanggal 17 Juli 1946, Robert Wolter Monginsidi yang lahir di Manado, Sulawesi Utara, membentuk suatu pasukan geriiya yang dinamakan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Pasukan ini terus menerus melakukan perang gerilya terhadap Belanda di Sulawesi Selatan. Mereka menyerang asrama Belanda, menghadang konvoi-konvoi Belanda, dan melakukan penghadangan-penghadangan terhadap patrol-patroli Belanda. Dalam suatu operasi besar-besaran pada tabggal 28 Februari 1947, Belanda berhasil menangkap Monginsidi.

Pada 27 Oktober 1947 ia berhasil meloloskan diri dan mulai menyerang kembali pos-pos Belanda. Namun, tidak lama kemudian Monginsidi tertangkap kembali untuk kedua kalinya. Ia diadili oleh Belanda, dan dalam proses pengadilan ditawarkan: kalau ia menyatakan berhenti mendukung Republik Indonesia, ia akan mendapatkan hukuman yang ringan. Namun apabila ia terus setia kepada Republik Indonesia, ia akan dijatuhkan hukuman mati.Ia jawab kepada hakim, “Hukum matilah saya, jika tidak kamu nanti yang saya bunuh pertama kali”. Surat keputusan pengadilan langsung ditandatangani oleh Monginsidi. Pada saat pelaksanaan hukuman mati, Belanda bertanya kepadanya apakah ada kata-kata terakhir.

Monginsidi meminta ijin untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian ia mengatakan kepada regu tembak, “laksanakan kewajiban kalian, tembaklah dengan tepat sasaran”. Robert Wolter Monginsidi gugur pada usia 24 tahun. Beliau telah memberikan jiwa dan raganya untuk Indonesia merdeka. Ketika hendak dimakamkan, ditemukan kitab suci Nasrani milik Mongindisi. Di dalam kitab tersebut, ditemukan secarik kertas dalam tulisan tangan, “Setia sampai akhir dalam keyakinan”.

Sebelum dihukum mati, ia sempat mengirimkan beberapa surat, salah satunya kepada kekasihnya yang bernama Nina. Di dalam surat tersebut ia mengatakan, “Semua air mata yang sudah dicurahkan, akan menjadi suatu fondasi yang kukuh kepada tanah kita yang kita cintai, yaitu Republik Indonesia” (7 Juni 1949).Kemudian dalam surat kepada adiknya Marie, Monginsidi menulis: “Jangan takut melihat massa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalanan bagi kalian walaupun belum semua kekuatanku aku gunakan.” Ada lagi surat Monginsidi kepada adiknya Opie, dimana ia menuliskan: “Apa yang saya bisa tinggalkan hanya roh ku saja, roh yang setia sampai akhir kepada tanah air, menuju kepada cita-cita kebangsaan.”

• Ignatius Slamet Riyadi

Dalam usia yang sangat muda, belasan tahun, Ignatius Slamet Riyadi berhasil membentuk suatu pasukan gerilya untuk mendukung proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ia menghimpun para pemuda ex PETA, Heiho dan Kaigun untuk menyerang pasukan Jepang di kota Solo. Dalam pertempuran-pertempuran, Slamet Riyadi selalu berada di depan pasukannya. Slamet Riyadi dengan pasukannya menjadi terkenal, bahkan legendaris, karena berhasil mengimbangi kekuatan pasukan Belanda. Slamet Riyadi membuktikan bahwa TNI dan Republik Indonesia mampu menyerang pusat kekuatan Belanda, antara lain kota Solo, yang pada waktu itu dipertahankan dengan persenjataan berat-artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh.

Slamet Riyadi yang memiliki pangkat Letnan Kolonel, adalah prajurit yang menerima otoritas kota Solo dari pihak Belanda.Slamet Riyadi melanjutkan karir di TNI sampai dengan saat penumpasan pemberontakan RMS di Ambon, ia ditunjuk sebagai pimpinan operasi dengan pangkat Kolonel. Ia berhasil memimpin perebutan kota Ambon kembali dari tangan pemberontak. Tetapi, dalam pertempuran dekat Benteng Victoria, ia terkena tembak saat memimpin anak buahnya di garis paling depan.Kolonel Ignatius Slamet Riyadi kita kenal juga sebagai penggagas pembentukan pasukan khusus TNI yang sekarang kita kenal dengan nama Kopassus. Kebetulan ia seorang dari suku Jawa yang menganut agama Katolik.

• Daan Mogot

Daan Mogot adalah seorang perwira TRI yang tergolong sangat cemerlang kariernya. Ia menjadi Mayor pada usia 16 tahun setelah mengikuti pendidikan PETA pada usia 14 tahun.Karena kegigihan dan keberhasilannya memimpin pasukan, ia menjadi direktur Akademi Militer Tangerang yang diberi tugas untuk mendidik calon-calon perwira Indonesia untuk ikut serta dalam perang merebut kemerdekaan.Pada tanggal 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot dengan beberapa perwira dan pasukan tarunanya terlibat dalam pertempuran Lengkong di Tangerang dalam usaha merebut senjata untuk TRI. Dalam pertempuran tersebut, ia gugur bersama 36 perwira dan taruna. Diantaranya yang gugur adalah dua orang paman saya Letnan Satu Subianto Djojohadikusumo, dan Kadet Suyono Djojohadikusumo. Sujono pada saat itu usianya baru 16 tahun.

• Laksamana Muda John Lie

Laksamana Muda John Lie alias Jahja Daniel Dharma adalah seorang perwira Angkatan Laut Indonesia yang berasal dari etnis Tionghoa. Ia lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 19 Maret 1911 dari ayah bernama Lie Kae Tae dan ibu bernama Oei Tjeng Nie Nio. Selama perang kemerdekaan, ia bertugas dengan sangat cemerlang, menerobos blokade maritim Belanda untuk menyelundupkan senjata dari Singapura dan Malaya untuk pasukan-pasukan TNI di Jawa. Ia meneruskan kariernya setelah perang kemerdekaan, dan terlibat dalam berbagai operasi untuk membela negara dan bangsa di berbagai wilayah Republik Indonesia. John Lie meninggal dengan pangkat Laksamana Muda TNI pada tanggal 27 Agustus 1988. Atas jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, dan Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.

Ini adalah contoh beberapa anak-anak Indonesia yang kebetulan berasal dari golongan minoritas. Ada yang beragama Hindu, ada yang Katolik, ada yang Protestan, ada yang keturunan etnis Tionghoa. Tentunya, ada banyak anak bangsa yang beragama Islam, yang terlibat dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Misalkan, kita mengenal kepahlawanan Jendral Sudirman yang dalam keadaan sakit memilih memimpin pasukan gerilya di gunung. Jendral Sudirman adalah suatu contoh keteladanan yang tidak ada taranya dalam sejarah Republik kita. Kita bisa bayangkan, teladan apa yang dapat diwariskan pada generasi penerus manakala pada saat itu Panglima Besar TNI yang pertama, tertangkap hidup oleh musuh. Beliau sadar bahwa dengan bergerilya dalam keadaan sakit paru-paru, kemungkinan beliau selamat sangat kecil. Tentunya siapa diantara kita yang tidak kenal Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Ki Bagus Hadi Kusumo, Wahid Hasyim dan yang lain. Mereka sudah sangat dikenal.

Dari cuplikan kisah-kisah diatas, saya ingin memberikan gambaran bahwa kemerdekaan kita direbut oleh seluruh rakyat, dari semua suku bangsa, kelompok etnis dan agama.Dalam perjalanan masa tugas saya sendiri sebagai perwira TNI, banyak prajurit yang gugur dibawah komando saya. Diantaranya saya ingat Sersan Dua Stefanus yang gugur di daerah dekat Sungai Kraras, Timor Timur pada tahun 1984 waktu menyerang kedudukan musuh. Sersan Stefanus meninggalkan seorang ibu dan seorang istri, serta seorang bayi kecil. Saya juga ingat Letnan Dua Infanteri Siprianus Gebo, perwira lulusan Akabri tahun 1988 yang berasal dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Siprianus Gebo gugur pada saat ia menyerbu suatu kamp gerilya di lereng Gunung Bilo, Vikeke, Timor Timur. Siprianus Gebo adalah seorang perwira teladan, seorang yang riang gembira yang sangat berprestasi, dari keluarga yang sederhana. Ia gugur saat masih bujangan. Ia telah memberi jiwa dan raganya untuk bangsa dan negara. Oleh negara ia diberi bintang tertinggi untuk keberanian, yaitu Bintang Sakti, dan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.

Saya sempat datang ke rumah keluarga Siprianus Gebo, dan menjumpai ibunya setelah sekian tahun pada tahun 2009. Ibunya hidup dalam keadaan sangat sederhana. Putra kesayangannya, harapan hidupnya, telah tiada – tetapi ibunya tetap tabah walau harus hidup dalam keprihatinan. Saya juga ingat dua sukarelawan Timor Timur yang berjuang dan bertempur bersama saya di tahun 1978. Keduanya adalah keturunan etnis Tionghoa. Yang satu dikenal dengan nama Domingus “Cina” dari Ossue, yang satu bernama Roberto Lie Lin Kai, adik dari seorang tokoh Tionghoa dari Vikeke bernama Fransisko Ciko Lie. Dua sukarelawan tersebut bertempur bersama pasukan TNI tanpa pangkat, tanpa jabatan dan tanpa ikatan dinas di hutan dan di gunung Timor Timur untuk Indonesia. Mereka menjadi pengawal setia saya. Saya sedih karena tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. Adalah pekerjaan rumah saya untuk terus mencari bagaimana nasib mereka sekarang.

Sukarelawan lain yang kebetulan beragama Nasrani (Kristen Katolik), yang gugur untuk Indonesia: Jose Fernandes, komandan kompi Partisan, gugur di Vikeke tanggal 17 Agustus 1983; Joaquin Monteiro, komandan kompi Partisan “Makikit”, gugur di Ossu bulan Februari 1986; Gilberto Gutteres, wakil dari Joaquin, gugur di Baucan tahun 1989; Juliao Fraga, komandan kompi SAKA, gugur 24 Oktober 1996 di Bancau. Kebetulan saya kenal dekat dengan mereka. Mereka pribadi-pribadi yang berani, tulus dan sangat setia kepada Merah Putih. Mereka tidak memiliki jabatan, pangkat dan gaji yang tetap. Mereka sungguh patriot sejati.Selain kisah-kisah mereka yang angkat senjata untuk Republik Indonesia, ada juga pahlawan-pahlawan yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di bidang lain. Salah satu yang paling menonjol diantaranya adalah Tan Joe Hok, orang Indonesia pertama yang menjuarai All England dan meraih medali emas Asian Games. Pada saat itu bulutangkis belum masuk olimpiade.

Kita juga kenal Rudi Hartono, yang nama Tionghoanya adalah Nio Hap Liang. Ia mengharumkan nama Indonesia selama delapan kali memenangkan kejuaraan All England. Liem Swie King juga lima kali menjadi juara All England, meraih medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan meraih tiga medali emas Piala Thomas pada tahun 1976, 1979, 1984.Kita juga ingat Wang Lian-xiang yang memilki nama Indonesia Lucia Francisca Susi Susanti. Ia meraih medali emas bersama Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992. Pada bulan Mei 2004, International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) memberikan penghargaan Hall Of Famekepada Susi Susanti. Pemain Indonesia lainnya yang pernah memperoleh penghargaan Hall Of Fame dari IBF yaitu Rudy Hartono Kurniawan, Dick Sudirman, Christian Hadinata, dan Liem Swie King.

Dalam suasana hari kemerdekaan yang ke 67, ada baiknya kita mengenang pribadi-pribadi diatas, anak-anak bangsa yang berasal dari berbagai suku, kelompok etnis dan agama, yang semuanya memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara. Pelajaran, hikmah yang dapat kita petik dari mengenal dan mengenang mereka adalah, bangsa kita adalah bangsa yang terdiri dari banyak suku, banyak agama, banyak ras. Bahwa semua kelompok etnis telah ikut serta dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Mereka telah membayar saham yang sangat mahal untuk mendirikan Republik ini dengan darah, keringat dan air mata mereka.

Saya ingat kata-kata salah seorang senior saya, mantan Menteri Agama H. Dr. Tarmizi Tahir, Laksamana Muda TNI-AL. Ia pernah mengatakan, “orang Nasrani, orang Hindu, orang Budha, orang Konghucu, bukan indekost di negeri ini. Mereka ikut mendirikan negeri ini”.Dengan suasana inilah hendaknya kita memandang masa depan kita dengan jiwa yang besar, bahwa semua anak bangsa memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mengabdi, untuk membela negara, bangsa dan rakyat Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengenang dan menghormati para pahlawannya. Bangsa yang unggul adalah bangsa yang dapat hidup dalam jiwa kebersamaan, kekeluargaan dan persatuan.

Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh.

Jakarta, 17 Agustus 2012

Prabowo Subianto

Tentang YHOHANNES NEOLDY, ST

Seberapa besar kita mengenal diri kita sendiri, tentunya hanya kita yang tau. Kita bisa berbicara A didepan orang mengenai diri kita. tapi bisakah kita mengatkan B pada Hati kita. tentunya tidak sejujurnya kita tidak dapat membohongi hati kita. kita suka terhadap sesuatu tapi dengan berbagai pertimbnagan kita malas mengungkapakan hal tersebut….kenapa dan mengapa??? tentunya hanya kita yang tahu. apakah sebegitu memalukannya hal yang kita inginkan sehingga kita tidak berani dan enggan mengungkapkannya. …saiYah… kLo suRuh descrIbe aBouT mY seLf.. gw seNdiri biNguNg.. seTiaP haRi aDa yG beRubaH.. eNTah yG baIk ataU yaNg buRux.. yG pasti gw bUkaN oRang yaNg meNgikuTi aRus.. BiaR kaN meReka di LUaR saNa beRmaiN deNgan maiNaNnya.. aKu deNgaN maiNaN ku seNdiri.. Gw kadaNg gILa kaDang meLankoLis kadaNg juga sTatis.. haNya terKadaNg hiduP ku teRLalu draMatis tuK ku ceRitaKan.. aKu oRang aNeH yG taK peRnah teRteBak oLeh Ku sendirI keMaNa jaLan yG ku tUju..HaL baRu.. aKu peMbuRu haL baRu.. di dUNia iNi banYak haL yg beLum ku keNaL.. MuNgkiN akaN ku haBis kaN hiduP ku uNTuK iTu daN bersEraH diRi seUtuHnya pada-Nya.. peTuaLaNg.. iTu meMaNg! oRaNg yG maLang.. Ku rasa aKu iNgiN puLaNg.. ke JaLan iTu.. BUkaN meLayaNg” spRti saaT ini.. aKu aneH.. peNuh deNgan diLemaTis.. taPi aKu taU siaPa aKu.. aH ribeT.. neoldy… neoldy… saMa saJa.. sILahkaN kaLIan yG meNiLai.. sUdaH banyaK Kok yaNg meniLai.. tesTi Ku saJa yG kaLIan baca tUk mengeNaL ku.. yG kadaNg giLa kadaNg aneH.. RibeTtttttttttt!!!!!!! PokoknYa yg pEngen taU gMn gW oR6nYa cobaLah utK l3bih deKaT..deKaT..DeKaT..Dekat..terUs..Terus..TerUs bElUm DeKat.. TRus dah ah BaHaYa terLaLu dEkaT……………….”WARNING” Lagi….. Saya lebih suka memulai dari bawah dan mendaki kepuncak dari pada memulai dari puncak dan harus tetap bertahan disana. Berbagai bunga serta kerikil dalam kehidupan ini telah sering aku rasakan, baik itu dalam bentuk cemoohan, cacian, sanjungan, sindiran, pujian, bahkan ada pula dukungan serta tekanan yang membuatku semakin hidup ini menjadi lebih bisa aku maknai. Tapi semua itu hanya pandangan orang dari luar saja, hati ini tak ada yang tau aku merasakan apa saat ini, sakitkah aku, pedihkan aku, teririskah aku atau senangkah aku, bahagiakan aku, ceriakah aku itu semua hanya hatiku yang membawa kemana aku harus melangkah mencari jalan yang benar2 lurus tanpa duri2. Meski kesedihan terus menggantung pada kelopak mata ini berusaha menarik terus dengan kuat air mataku untuk keluar dan terkadang tangisan itu tak bisa ku bendung sampai tersedu-sedu. Aku berjuang dengan tangnku sendiri hanya mama dan nenek ku yang perhatian untukku. Menghormati diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengendalikan diri sendiri. Tiga ini saja mengarahkan hidup pada kekuatan yang berddaulat. Ingatlah kebaikan seseorang pada kita Lupakan kesalahan seseorang pada kita Ingatlah kesalahan kita pada orang lain dan Lupakan kebaikan kita pada orang lain jangan berdusta bila tak ingin didustai… Ketika Seseorang melukai hatimu, tulislah diatas pasir agar terhapus angin. Bila kebaikan yang terjadi, pahatlah di atas batu agar tidak terhapus oleh angin. Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri. Kemandirian untuk mengisi waktu muda dengan hal-hal positif dan tidak takut akan adanya perbedaan. Serta kemandirian untuk selalu melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari penyelesaian permasalahan, tanpa berharap adanya kesempatan dari orang lain. “Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang … apalagi baru bertemu atau cuma melihat dari jauh! Kenali dulu orang itu, baru menilai! Bak pitua urang minang, “KOK NDAK TAU JO GADANG OMBAK CALIEK KAPANTAINYO, KOK NDAK TAU JO GADANG KAYU CALIK KA PANGKANYO” Kehidupan mengajarkan aku untuk bersikap bisa menerima kenyataan pengalaman mengajarkan aku akan arti kejujuran kebenaran tak akan penah terkalahkan oleh satu apapun karna saat kejujuran itu berkata maka kebenaran akan mengungkapkan semuanya salah bagi mereka yang menyalahkan kan arti kejujuran .. salah bagi mereka yang tak memperdulikan kebenaransalah untuk mereka yang menutup mata telinga hati dan pikiran untuk mengetahui kenyataan kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup ini butuh perjuangan. Dalam hidup ini perlu pengorbanan. Dan dalam hidup ini aku harus melakukan hal yang benar meskipun berbahaya!!! CINTA KEBAHAGIAAN KASIH SAYANG PERSAHABATAN TUMBUHNYA DARI HATI YANG TULUS. Aku akan mencintai orang yang mencitaiku dan akan menjaga mereka dengan sepenuh hati tidak akan menyakitinya dan lukai hatinya karna cinta semua akan terasa indah cuman GW yang bisa ngedapetin hatinya Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menytakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya. “Untuk melakukan suatu perubahan bukanlah tugas yg mudah. Kadang kita dihina, dicaci, diremehkan & bahkan difitnah. Kita harus berterimakasih kepada mereka untuk menunjukkan & membuktikan bahwa kita bisa. semua tantangan itu akan dapat teratasi.” Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting mau kemana kita akan melangkah. Tentukan tujuan dari sekarang, cintai prosesnya dan mimpikan hasil terbaiknya! Berapa besar kepercayaan orang, ditentukan oleh seberapa besar kejujuran dan kredibilitas kita. Bangun kredebilitas dan tetaplah mengutamakan kebenaran hakiki yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak peduli dengan latar belakang keluarga, yang penting kita mau melakukan sesuatu dan kita berada di jalur yang tepat dan mau tumbuh juga berkembang. Orang tua kita siapa itu tidak penting, terpenting kita mau jadi anak yang bagaimana. Tidak peduli masa lalu, yang penting hari ini, esok dan seterusnya. Tak perlu pikirkan buruknya masa lalu, hinannya kita di masa lalu, yang penting kita mau memikirkan dan berubah mulai sekarang untuk hari esok. Tidak peduli siapa diri kita di mata orang lain, yang penting kita mau melihat orang lain dari sisi terbaiknya dan mau melihat diri kita dari sisi terbaik dan terburuknya. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki. Sukses bukan berarti serba bisa! Buah yang akan kita petik, ditentukan dari bagaimana kita menanamnya. Lakukan yang terbaik dan tetaplah konsiten. Bagaimana sekarang kita berproses, maka inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya. Tuhan tidak pernah tidur, kuasanya tahu mana hamba-hambanya yang mau melakukan sesuatu dan bekerja keras, berdo’a dan meyakini bahwa tuhan akan ikut campur tangan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita. Tetaplah optimis dan lakukanlah yang terbaik. Seberapa besar mimpi kita itu tidak penting, yang penting seberapa besar sesuatu yang kita kerjakan dan seberapa tepat kita melakukannya. Timing! “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan INI BAPAK SAYA. Tapi pemuda adalah seorang yang mengatakan INILAH SAYA”
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Prabowo Subianto. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s