Kawa Daun ( Minuman Tea dari Daun Kopi )


kokoPondok Kawa Daun Mangkuto, Bukik Siangin, Tabek Patah ramai di kunjungi oleh penikmat kuliner. Senja telah rebah. Tabek Patah kini digenggam malam.Sekejap suasana seperti terseret jauh ke bukit-bukit miring di sekeliling Gunung Marapi. Doeloe di sana, terhampar ladang kopi yang subur sesayup mata memandang. Pribumi menyiangi pokok-pokok kopi mereka. Tanpa mereka mengerti, kopi itu kemudian diangkut ke Amsterdam, Belanda.
Hamparan tanaman kopi itu tiap hari disapu-sapu angin gunung. Anginnya sejuk, namun tidak kisahnya. Ketika itu 1840 di Minangkabau mulai diterapkan Cultuurstelsel atau taman paksa, 10 tahun setelah hal serupa diterapkan di Pulau Jawa. Selama 30 tahun, hasil bumi Minangkabau terutama kopi tak boleh disentuh.


Ditanam harus dipetik jangan. Yang boleh diambil hanya daunnya. Perih sejarah kemudian terpantul pada daun kopi yang diseduh, itulah kawa.
Mestika Zed adalah sejarawan pertama di Indonesia yang mengkaji secara serius sebutan Melayu Kopi Daun. Ia melakukan penelitian untuk tesis S-2 tentang kisah pilu dan satir tentang kopi daun tersebut. Tesisnya diberi judul, “Melayu Kopi Daun”
Tanam Paksa diterapkan di Indonesia pada 1830 oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch. Semua tanaman bermutu seperti kopi gula nila hasilnyan disetor pada penjajah. Karena “kehebatannya” itu, Bosh dianugerahi Graaf sebuah gelar terhormat oleh raja Belanda. Untuk “menghapus jejak” pada 1901 Belanda menerapkan Politik Etis atau Politik Balas Budi. Maka muncullah sekolah-sekolah.

Warisan nenek moyang
Tapi kopi daun tak berhenti begitu saja. Kebiasaan memetik daun kopi kemudian menyangainya menjadi semacam teh dan menyeduhnya, terus diwariskan nenek moyang hingga saat ini.
Minum kawa sebenarnya sudah berakar jauh ke belakang, sebelum Tanam Paksa di beberapa tempat satu dua orang juga sudah meminumnya.
Nenek saya adalah pembuat kawa daun ulung. Ia bercerita, orang tuanya membuat kawa karena dilarang Belanda mengambil biji kopi. Yang boleh hanya daunnya. Awalnya terasa kelat, pahit dan bikin mual, tapi karena dipaksa, lambat laun menjadi enak.
Kawa daun sebagaimana awalnya hadir, diminum di sayak tempurung yang sudah dibersihkan. Airnya ditampung dalam tabung bambu. Agar ampasnya tersisih maka di bagian atas tabung diletakkan ijuk sebagai penyaring. Kawa enak diminum selagi hangat dan tanpa gula.
“Wak ndak nio doh, mual deknyo,” kata wartawan Singgalang Syaiful Husein, ketika lima sayak kawa terhidang di meja lengkap dengan goreng ubi. Saya cicipi kawa hangat itu. Manis.
“Untuk saya tanpa gula,” kata saya minta ganti. Sementara Eriandi, redaktur pelaksana Singgalang, Widya Navies dan wartawati Lenggegeno mencoba menikmati sendok demi sendok kawa hangat bergula itu.
Kawa tanpa gula untuk saya terhidang. Saya pegang sayaknya, panas. Seketika, ingatan kembali melayang jauh ke rumah masa kanak-kanak di Supayang, terpaut 4 Km dari Tabek Patah. Di rumah saya hanya ada kawa, minuman sehari-hari. Tidak ada air putih. Jikapun ada nyaris tidak disentuh. Berbilang tahun lamanya, saya sangat akrab dengan kawa.
Senja Sabtu ini, saya justru harus membeli sesayak air kawa hangat bersama teman-teman wartawan, para sahabat saya. Syaiful Husein, malah tidak mengenal kawa. Ia marah sekali ketika tahu sejarah kawa dari temannya.
“Balando sabana-bana kumpeni, buah kopi diangkuik e, niniak moyang awaknyo suruah minum air daunnyo, jaek bana,” kata dia. Syaiful benar. Karena itu ia tidak suka minum kawa, mungkin.
Tapi tidak dengan saya. Saya lihat teman-teman wartawan mencicipinya sendok demi sendok sampai habis. Di meja lain dalam pondok itu, penuh orang. Mereka menikmati goreng ubi yang hangat. Nikmat. Lantas menyeruput kawa pakai gula aren.
Saya yakin mereka adalah penikmat kuliner tradisional, tapi bagi mereka kawa bukan bagian dari masa kecilnya. Beda dengan saya, karena itu sesayak kawa hangat tanpa gula itu, sekejap habis saya minum. Saya mau minta tambah, namun sayup terdengar, kawa habis, sehingga tiga calon konsumen balik kanan. Sesungguhnya, bagi penikmat kawa daun, yang enak justru tanpa gula.
Belakangan kawa daun menjadi bisnis kuliner khas Tanah Datar, banyak variannya, pakai jahe, juga susu. Banyak sekali pondok kawa ditemukan. Yang paling ramai memang di Tabek Patah, baik ke arah Baso, maupun ke arah Batusangkar. Tabek Patah merupakan salah satu nagari yang banyak menamam kopi dari zaman Tanam Paksa hingga kini.
Pondok Kawa Daun Mangkuto di Bukik Siangin, Tabek Patah itu, masih ramai. Cahaya lampu listrik berpendar ke luar pondok. Jalan provinsi yang membentang di depannya ramai pula oleh lalu lintas. Anak-anak muda menghabiskan senja di sana lalu datanglah malam. Malam di lereng Marapi, sekali lagi menyerat saya ke masa lalu.
Widya Navies, Eriandi, Syaiful Husen dan Lenggogeni beranjak tanpa beban meninggalkan pondok kuliner itu. Saya justru masih tertinggal di sana. Bukan saya, tapi ingatan.
Terbayang lagi nenek menyangai daun kopi di perapian. Terbayang ia meraciknya dalam periuk, kemudian memindahkannya ke dalam tabung. Kalau tak pas, rasanya akan pahit. Kakek saya, seusai mengimami Shalat Subuh, akan menemukan hidangan kesukaannya, kawa daun, goreng ubi buatan nenek. Selang kemudian sejumlah anggota jemaah kakek akan bergabung. Mereka bercerita tentang kaji yang tadi malam tergaing.
Mobil kami meliuk di Kelok Ula, naik, turun hingga kemudian hanyut dalam lalu lintas yang padat di Baso. Malam telah sempurna. Kami harus ke Padang, kota tempat kami mencari nafkah. Orang kampung saya justru mencari nafkah dengan sejarah mereka. Dibeli orang-orang berduit. Sejarah kelam tak harus diratapi, tapi dimodifikasi, dikreasi lalu dihidangkan pada zaman yang kian maju. Pada rakyatnya yang kian berjarak dengan masa lalu.
Kawa adalah sejarah dalam sayak tempurung yang tak perlu diratapi, tapi diakali. Lalu kini menjadi kuliner yang hebat, keluar dari rumah-rumah penduduk di pinggang bukit. Hadir dalam kedai minuman, dinikmati anak-anak zaman, dipuja, dikisahkan ke mana saja bahkan sampai ke Belanda. Kreasi anak nagari itu, semakin membuat Tanah Datar terkenal.
Ternyata warisan yang diterima berupa kekayaan batin dan kekayaan intelektual, jauh lebih berharga. Kawa adalah paduan dari keduanya. (tulisan ini hak cipta Khairul Jasmi dan sudah pernah juga diteribitakn di Harian Umum Singgalang)

Tentang YHOHANNES NEOLDY, ST

Seberapa besar kita mengenal diri kita sendiri, tentunya hanya kita yang tau. Kita bisa berbicara A didepan orang mengenai diri kita. tapi bisakah kita mengatkan B pada Hati kita. tentunya tidak sejujurnya kita tidak dapat membohongi hati kita. kita suka terhadap sesuatu tapi dengan berbagai pertimbnagan kita malas mengungkapakan hal tersebut….kenapa dan mengapa??? tentunya hanya kita yang tahu. apakah sebegitu memalukannya hal yang kita inginkan sehingga kita tidak berani dan enggan mengungkapkannya. …saiYah… kLo suRuh descrIbe aBouT mY seLf.. gw seNdiri biNguNg.. seTiaP haRi aDa yG beRubaH.. eNTah yG baIk ataU yaNg buRux.. yG pasti gw bUkaN oRang yaNg meNgikuTi aRus.. BiaR kaN meReka di LUaR saNa beRmaiN deNgan maiNaNnya.. aKu deNgaN maiNaN ku seNdiri.. Gw kadaNg gILa kaDang meLankoLis kadaNg juga sTatis.. haNya terKadaNg hiduP ku teRLalu draMatis tuK ku ceRitaKan.. aKu oRang aNeH yG taK peRnah teRteBak oLeh Ku sendirI keMaNa jaLan yG ku tUju..HaL baRu.. aKu peMbuRu haL baRu.. di dUNia iNi banYak haL yg beLum ku keNaL.. MuNgkiN akaN ku haBis kaN hiduP ku uNTuK iTu daN bersEraH diRi seUtuHnya pada-Nya.. peTuaLaNg.. iTu meMaNg! oRaNg yG maLang.. Ku rasa aKu iNgiN puLaNg.. ke JaLan iTu.. BUkaN meLayaNg” spRti saaT ini.. aKu aneH.. peNuh deNgan diLemaTis.. taPi aKu taU siaPa aKu.. aH ribeT.. neoldy… neoldy… saMa saJa.. sILahkaN kaLIan yG meNiLai.. sUdaH banyaK Kok yaNg meniLai.. tesTi Ku saJa yG kaLIan baca tUk mengeNaL ku.. yG kadaNg giLa kadaNg aneH.. RibeTtttttttttt!!!!!!! PokoknYa yg pEngen taU gMn gW oR6nYa cobaLah utK l3bih deKaT..deKaT..DeKaT..Dekat..terUs..Terus..TerUs bElUm DeKat.. TRus dah ah BaHaYa terLaLu dEkaT……………….”WARNING” Lagi….. Saya lebih suka memulai dari bawah dan mendaki kepuncak dari pada memulai dari puncak dan harus tetap bertahan disana. Berbagai bunga serta kerikil dalam kehidupan ini telah sering aku rasakan, baik itu dalam bentuk cemoohan, cacian, sanjungan, sindiran, pujian, bahkan ada pula dukungan serta tekanan yang membuatku semakin hidup ini menjadi lebih bisa aku maknai. Tapi semua itu hanya pandangan orang dari luar saja, hati ini tak ada yang tau aku merasakan apa saat ini, sakitkah aku, pedihkan aku, teririskah aku atau senangkah aku, bahagiakan aku, ceriakah aku itu semua hanya hatiku yang membawa kemana aku harus melangkah mencari jalan yang benar2 lurus tanpa duri2. Meski kesedihan terus menggantung pada kelopak mata ini berusaha menarik terus dengan kuat air mataku untuk keluar dan terkadang tangisan itu tak bisa ku bendung sampai tersedu-sedu. Aku berjuang dengan tangnku sendiri hanya mama dan nenek ku yang perhatian untukku. Menghormati diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengendalikan diri sendiri. Tiga ini saja mengarahkan hidup pada kekuatan yang berddaulat. Ingatlah kebaikan seseorang pada kita Lupakan kesalahan seseorang pada kita Ingatlah kesalahan kita pada orang lain dan Lupakan kebaikan kita pada orang lain jangan berdusta bila tak ingin didustai… Ketika Seseorang melukai hatimu, tulislah diatas pasir agar terhapus angin. Bila kebaikan yang terjadi, pahatlah di atas batu agar tidak terhapus oleh angin. Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri. Kemandirian untuk mengisi waktu muda dengan hal-hal positif dan tidak takut akan adanya perbedaan. Serta kemandirian untuk selalu melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari penyelesaian permasalahan, tanpa berharap adanya kesempatan dari orang lain. “Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang … apalagi baru bertemu atau cuma melihat dari jauh! Kenali dulu orang itu, baru menilai! Bak pitua urang minang, “KOK NDAK TAU JO GADANG OMBAK CALIEK KAPANTAINYO, KOK NDAK TAU JO GADANG KAYU CALIK KA PANGKANYO” Kehidupan mengajarkan aku untuk bersikap bisa menerima kenyataan pengalaman mengajarkan aku akan arti kejujuran kebenaran tak akan penah terkalahkan oleh satu apapun karna saat kejujuran itu berkata maka kebenaran akan mengungkapkan semuanya salah bagi mereka yang menyalahkan kan arti kejujuran .. salah bagi mereka yang tak memperdulikan kebenaransalah untuk mereka yang menutup mata telinga hati dan pikiran untuk mengetahui kenyataan kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup ini butuh perjuangan. Dalam hidup ini perlu pengorbanan. Dan dalam hidup ini aku harus melakukan hal yang benar meskipun berbahaya!!! CINTA KEBAHAGIAAN KASIH SAYANG PERSAHABATAN TUMBUHNYA DARI HATI YANG TULUS. Aku akan mencintai orang yang mencitaiku dan akan menjaga mereka dengan sepenuh hati tidak akan menyakitinya dan lukai hatinya karna cinta semua akan terasa indah cuman GW yang bisa ngedapetin hatinya Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menytakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya. “Untuk melakukan suatu perubahan bukanlah tugas yg mudah. Kadang kita dihina, dicaci, diremehkan & bahkan difitnah. Kita harus berterimakasih kepada mereka untuk menunjukkan & membuktikan bahwa kita bisa. semua tantangan itu akan dapat teratasi.” Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting mau kemana kita akan melangkah. Tentukan tujuan dari sekarang, cintai prosesnya dan mimpikan hasil terbaiknya! Berapa besar kepercayaan orang, ditentukan oleh seberapa besar kejujuran dan kredibilitas kita. Bangun kredebilitas dan tetaplah mengutamakan kebenaran hakiki yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak peduli dengan latar belakang keluarga, yang penting kita mau melakukan sesuatu dan kita berada di jalur yang tepat dan mau tumbuh juga berkembang. Orang tua kita siapa itu tidak penting, terpenting kita mau jadi anak yang bagaimana. Tidak peduli masa lalu, yang penting hari ini, esok dan seterusnya. Tak perlu pikirkan buruknya masa lalu, hinannya kita di masa lalu, yang penting kita mau memikirkan dan berubah mulai sekarang untuk hari esok. Tidak peduli siapa diri kita di mata orang lain, yang penting kita mau melihat orang lain dari sisi terbaiknya dan mau melihat diri kita dari sisi terbaik dan terburuknya. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki. Sukses bukan berarti serba bisa! Buah yang akan kita petik, ditentukan dari bagaimana kita menanamnya. Lakukan yang terbaik dan tetaplah konsiten. Bagaimana sekarang kita berproses, maka inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya. Tuhan tidak pernah tidur, kuasanya tahu mana hamba-hambanya yang mau melakukan sesuatu dan bekerja keras, berdo’a dan meyakini bahwa tuhan akan ikut campur tangan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita. Tetaplah optimis dan lakukanlah yang terbaik. Seberapa besar mimpi kita itu tidak penting, yang penting seberapa besar sesuatu yang kita kerjakan dan seberapa tepat kita melakukannya. Timing! “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan INI BAPAK SAYA. Tapi pemuda adalah seorang yang mengatakan INILAH SAYA”
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s