Caleg Membangun Demokrasi


“Jangan hanya karena kau bermaksud menjadi presiden pada tahun 2014 sehingga kau pun merasa perlu tahu politik…”

Tulisan ini terinspirasi kisah nyata seorang anak muda yang masih sangat belia, yang menjadi Caleg di salah satu Dapil Kota Medan untuk pemilu 2014. Dalam aktivitas awalnya membangun jaringan, anak muda yang sedang menyelesaikan studi S-2-nya ini memulai dengan membuat peta sederhana.

Peta sederhana itu dibangun atas informasi awal tentang jumlah pemilih, jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS), jumlah Kelurahan, jumlah kecamatan dan nama-nama Caleg saingannya di Dapil itu. Ia juga memperoleh data dari KPU tentang angka bilangan pembagi emilih (BPP) pemilu 2009, termasuk Caleg terpilih dan distribusi suara menurut Caleg dan partai waktu itu. .

Ia cukup serius menjadikan even dan kesempatan yang diperolehnya menjadi Caleg itu sebagai bagian dari proses belajar. Bahkan kelas yang diikutinya pada studi S-2 sering dianggapnya sebagai peluang tersendiri untuk menguji sahih pikiran-pikiran dan praktik (lapangan) politik perkampanyeannya kepada para profesornya yang sedang mengajar. Ia juga akan mengajukan judul Front Stage dan Back Stage dalam Kampanye Politik Tahun 2014 sebagai judul tesis.

Ia telaah dengan tegar data Indeks Demokrasi Indonesia yang buruk, termasuk untuk Sumatera Utara yang antara lain disebabkan ketidaknetralan penyelenggara dan buruknya tingkat kejujuran dalam menghitung suara, serta kemaharajalelaan money politics.

Kini ia sudah sangat siap untuk terpilih dan tak terpilih. Tidak ada langkah yang tak direncanakan dan tak dihitung secara cermat dampaknya, termasuk ketika menentukan partai mana yang akan “ditumpang” dan bagaimana mendapatkan status Caleg dengan politik luhur, tanpa bayar sepeser pun.

Ia sama sekali tak berencana menggelontorkan uang sebagai kelanjutan demokrasi transaksional yang dilembagakan di Indonesia saat ini. Artinya ia berdiri gagah menantang Indonesia yang sudah sedemikian buruk.

Dialog Pencerdasan

Hari sudah menjelang Magrib, dan waktu buka puasa sudah terlihat terbersit kuat di wajah orang-orang yang ditemuinya saat blusukan dalam rangka membangun jaringan pada Ramadhan lalu. Seseorang yang kira-kira sebaya dengan dia telah mengeluarkan pernyataan yang kurang sportif.

“Tak ada Caleg lain yang boleh masuk ke wilayah ini. Atribut siapapun terlarang di sini”, begitu ungkapan orang itu. Memang, ungkapan itu tidak disampaikan langsung kepadanya, melainkan hanya dibuat seperti igauan bersungut-sungut sambil menjauhkan pandangan dan ingin segera berlalu.

Anak muda Caleg itu bukannya menjadi surut, malah merasa memiliki peluang besar. Terjadilah dialog, meski anak muda Caleg itu sebetulnya paling banyak berkata-kata, bahkan posisinya menasehati plus memberi indoktrinasi.

Meskipun bukan familimu, kau kan kenal juga Brad Pitt atau Shahruk Khan atau Jet Lee? (ketiganya adalah bintang filem terkenal dari negara, tradisi dan mazhab industri perfilman yang berbeda). Jangan hanya karena kau bermaksud menjadi presiden pada tahun 2014 sehingga kau pun merasa perlu tahu politik. Itu bukan cara berpikir seorang negarawan. Jangan pula karena tak menjadi pejabat negara kau merasa bukan seorang negarawan.

Sungguh, sejujurnya saya merasa sedang berhadapan dengan seorang negarawan. Anak muda yang dihadapinya terperangah sejenak untuk kemudian berucap: “saya gak serius, maafkan saya dengan ucapan saya tadi”. Anak muda Caleg merasa posisi telah dimenangkan secara moral, dan keadaan akan terus didominasi. Lalu ia seperti berceramah.

Kalau begitu tak ada ruginya kau optimis, dan spanduk saya tidak perlu kau anggap sebagai simbol ajakan untuk peperangan, walaupun misalnya ayah atau ibumu menjadi saingan saya di Dapil ini. Mungkin kau hingga kini tak bermaksud memilih saya.

Tetapi jika kau lakukan itu hanya karena partaimu berbeda dengan saya, coba renungkan pendirian itu berkali-kali, termasuk saat kau akan tidur nanti malam. Cara memikirkannya antara lain begini: jika semua orang harus dicalonkan melalui partaimu, apakah itu Pemilu normal? Itu bukan Pemilu. Itu cuma pemilihan pengurus partai? Artinya partaimu itu sangat penting, sepenting partai lain termasuk partai saya.

Jika kau gagal melakukannya, jangan takut, karena sesungguhnya banyak orang yang seperti kau. Pada tahap itu saya masih belum bisa menganggap kau bukan seorang negarawan. Karena saya tahu seorang negarawan sejati pun sering khilaf dan bertindak konyol bahkan merugikan negaranya sendiri.

Itu tak menghalangi negara menganugerahkannya gelar pahlawan. Yang penting kekonyolan itu jangan jadi habit atau kebiasaan buruk. Tetapi jika kegagalan itu akan kau lanjutkan lagi dengan perusakan spanduk saya, urusannya menjadi lain. Bukan hanya kau yang akan bersedih jika dituduh telah dikader oleh partaimu khusus untuk merusak spanduk saya, meski tuduhan itu saya rasakan berlebihan juga.

Bagaimana kalau kita sederhanakan saja masalahnya? Memang spanduk saya itu adalah bahasa lain untuk memintamu dan orang lain, termasuk ayah, ibu dan saudara-saudaramu serta orang lain yang memiliki hak pilih, untuk memilih saya nanti. Tetapi kau jangan silap, kau boleh juga tidak memilih saya meski hal itu tentu saja tak menyenangkan buat saya. Di atas segalanya, kau perlu catat bahwa saya tetap pastikan sikap saya bahwa kalau saya nanti terpilih kau pun punya hak mengklaim bahwa saya ini wakilmu di legislatif.

Nah, saya tidak punya banyak waktu. Ini kartu nama saya. Sengaja saya kemas jumlahnya agak banyak. Jika kau masih ingin menyampaikan sesuatu di lain waktu, termasuk misalnya memberitahu saya karena tak semua kartu nama saya ini terbagi habis kepada para pemilih di sini, nomor HP saya tertera di kartu ini. Kau tak usah membelanjakan pulsa untuk “menjangkau” saya, karena dengan miss call saja kau pasti akan saya hubungi.

Serangan Orang Kasep

Seseorang lainnya yang sudah memiliki hak pilih sejak masa orde baru sejak awal memerhatikan dialog itu. Dengan geleng-geleng kepala menyerang dengan kata-kata amat pedas. Begini katanya: Nomor hp-mu ini pun nanti pasti tidak dapat dihubungi. Nomormu ini hanya aktif sebatas kekuatan pulsa Rp5000-an.

Mengapa bangsa ini tidak sadar untuk memilih orang yang pantas? Bisa apa kau menyogok pemilih dan membayar petugas agar suaramu tak dicuri di TPS dan dalam proses perhitungan selanjutnya hingga pleno di KPU? Saya lebih suka partai kecil berpotensi besar dengan kader handal.

Maaf, saya sangat sepakat mengenyahkan Caleg berstatus “Anjing pemburu” (barangkali maksudnya ialah Caleg yang hanya dianggap memperbanyak suara bagi calon jadi yang dipersiapkan partai meski pemilunya dengan pola suara terbanyak).

Anak muda Caleg itu tertawa lebar dan dengan tegar membalas: “Saya sangat tidak mengharapkan ucapan itu datang dari seorang yang bagi generasi saya sebetulnya dianggap ikut bertanggungjawab atas kebobrokan negeri ini. Saya tadi berbincang dengan seorang dari generasi saya.

Perasaan kami dalam banyak hal sama, sesama orang yang penuh kecemasan mewarisi kebobrokan negeri ini. Saya sangat faham arah ucapan bapak. Tetapi bukannya menggelar pertaubatan, malah bapak memulai sebuah permusuhan baru dengan ketangkasan yang tak terperikan.

Saya tak melihat tanda-tanda kemanfaatan apapun dalam keseluruhan diri bapak sebagai konsekuensi pengalaman menjadi penerima segepok uang setiap pilihan dalam Pemilu. Saya sudah menuduh, jelas ini tidak saya kehendaki. Tetapi saya merasa apatisme bapak sudah dalam tingkat membahayakan negeri kami”.

Sebelum orang itu membalas, anak muda Caleg meneruskan: “Saya lihat bapak naik pitam menerima bahasa saya. Tetapi saya kira bapak tidak bisa melakukan apa-apa termasuk memukul saya, karena dengan satu gerakan saja dari saya bapak bisa terjungkal dan harus saya gotong ke rumah sakit.

Dengan kejadian seperti itu saya bisa memperkirakan mendapat penambahan popularitas di sekitar sini berlipat ganda. Tetapi terserah bapak saja, saya tidak mencari musuh dalam berniat memuliakan nasib generasi saya dan generasi setelah saya”. Apa yang terjadi kemudian? Orang tua itu menyesal, minta maaf dan berjanji akan membantu sekuat tenaga. ***** ( Shohibul Anshor Siregar : Penulis adalah Dosen FISIP UMSU, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS). )

(Sumber) http://www.waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=29103:caleg-membangun-demokrasi&catid=59:opini&Itemid=215

Tentang YHOHANNES NEOLDY, ST

Seberapa besar kita mengenal diri kita sendiri, tentunya hanya kita yang tau. Kita bisa berbicara A didepan orang mengenai diri kita. tapi bisakah kita mengatkan B pada Hati kita. tentunya tidak sejujurnya kita tidak dapat membohongi hati kita. kita suka terhadap sesuatu tapi dengan berbagai pertimbnagan kita malas mengungkapakan hal tersebut….kenapa dan mengapa??? tentunya hanya kita yang tahu. apakah sebegitu memalukannya hal yang kita inginkan sehingga kita tidak berani dan enggan mengungkapkannya. …saiYah… kLo suRuh descrIbe aBouT mY seLf.. gw seNdiri biNguNg.. seTiaP haRi aDa yG beRubaH.. eNTah yG baIk ataU yaNg buRux.. yG pasti gw bUkaN oRang yaNg meNgikuTi aRus.. BiaR kaN meReka di LUaR saNa beRmaiN deNgan maiNaNnya.. aKu deNgaN maiNaN ku seNdiri.. Gw kadaNg gILa kaDang meLankoLis kadaNg juga sTatis.. haNya terKadaNg hiduP ku teRLalu draMatis tuK ku ceRitaKan.. aKu oRang aNeH yG taK peRnah teRteBak oLeh Ku sendirI keMaNa jaLan yG ku tUju..HaL baRu.. aKu peMbuRu haL baRu.. di dUNia iNi banYak haL yg beLum ku keNaL.. MuNgkiN akaN ku haBis kaN hiduP ku uNTuK iTu daN bersEraH diRi seUtuHnya pada-Nya.. peTuaLaNg.. iTu meMaNg! oRaNg yG maLang.. Ku rasa aKu iNgiN puLaNg.. ke JaLan iTu.. BUkaN meLayaNg” spRti saaT ini.. aKu aneH.. peNuh deNgan diLemaTis.. taPi aKu taU siaPa aKu.. aH ribeT.. neoldy… neoldy… saMa saJa.. sILahkaN kaLIan yG meNiLai.. sUdaH banyaK Kok yaNg meniLai.. tesTi Ku saJa yG kaLIan baca tUk mengeNaL ku.. yG kadaNg giLa kadaNg aneH.. RibeTtttttttttt!!!!!!! PokoknYa yg pEngen taU gMn gW oR6nYa cobaLah utK l3bih deKaT..deKaT..DeKaT..Dekat..terUs..Terus..TerUs bElUm DeKat.. TRus dah ah BaHaYa terLaLu dEkaT……………….”WARNING” Lagi….. Saya lebih suka memulai dari bawah dan mendaki kepuncak dari pada memulai dari puncak dan harus tetap bertahan disana. Berbagai bunga serta kerikil dalam kehidupan ini telah sering aku rasakan, baik itu dalam bentuk cemoohan, cacian, sanjungan, sindiran, pujian, bahkan ada pula dukungan serta tekanan yang membuatku semakin hidup ini menjadi lebih bisa aku maknai. Tapi semua itu hanya pandangan orang dari luar saja, hati ini tak ada yang tau aku merasakan apa saat ini, sakitkah aku, pedihkan aku, teririskah aku atau senangkah aku, bahagiakan aku, ceriakah aku itu semua hanya hatiku yang membawa kemana aku harus melangkah mencari jalan yang benar2 lurus tanpa duri2. Meski kesedihan terus menggantung pada kelopak mata ini berusaha menarik terus dengan kuat air mataku untuk keluar dan terkadang tangisan itu tak bisa ku bendung sampai tersedu-sedu. Aku berjuang dengan tangnku sendiri hanya mama dan nenek ku yang perhatian untukku. Menghormati diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengendalikan diri sendiri. Tiga ini saja mengarahkan hidup pada kekuatan yang berddaulat. Ingatlah kebaikan seseorang pada kita Lupakan kesalahan seseorang pada kita Ingatlah kesalahan kita pada orang lain dan Lupakan kebaikan kita pada orang lain jangan berdusta bila tak ingin didustai… Ketika Seseorang melukai hatimu, tulislah diatas pasir agar terhapus angin. Bila kebaikan yang terjadi, pahatlah di atas batu agar tidak terhapus oleh angin. Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri. Kemandirian untuk mengisi waktu muda dengan hal-hal positif dan tidak takut akan adanya perbedaan. Serta kemandirian untuk selalu melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari penyelesaian permasalahan, tanpa berharap adanya kesempatan dari orang lain. “Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang … apalagi baru bertemu atau cuma melihat dari jauh! Kenali dulu orang itu, baru menilai! Bak pitua urang minang, “KOK NDAK TAU JO GADANG OMBAK CALIEK KAPANTAINYO, KOK NDAK TAU JO GADANG KAYU CALIK KA PANGKANYO” Kehidupan mengajarkan aku untuk bersikap bisa menerima kenyataan pengalaman mengajarkan aku akan arti kejujuran kebenaran tak akan penah terkalahkan oleh satu apapun karna saat kejujuran itu berkata maka kebenaran akan mengungkapkan semuanya salah bagi mereka yang menyalahkan kan arti kejujuran .. salah bagi mereka yang tak memperdulikan kebenaransalah untuk mereka yang menutup mata telinga hati dan pikiran untuk mengetahui kenyataan kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup ini butuh perjuangan. Dalam hidup ini perlu pengorbanan. Dan dalam hidup ini aku harus melakukan hal yang benar meskipun berbahaya!!! CINTA KEBAHAGIAAN KASIH SAYANG PERSAHABATAN TUMBUHNYA DARI HATI YANG TULUS. Aku akan mencintai orang yang mencitaiku dan akan menjaga mereka dengan sepenuh hati tidak akan menyakitinya dan lukai hatinya karna cinta semua akan terasa indah cuman GW yang bisa ngedapetin hatinya Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menytakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya. “Untuk melakukan suatu perubahan bukanlah tugas yg mudah. Kadang kita dihina, dicaci, diremehkan & bahkan difitnah. Kita harus berterimakasih kepada mereka untuk menunjukkan & membuktikan bahwa kita bisa. semua tantangan itu akan dapat teratasi.” Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting mau kemana kita akan melangkah. Tentukan tujuan dari sekarang, cintai prosesnya dan mimpikan hasil terbaiknya! Berapa besar kepercayaan orang, ditentukan oleh seberapa besar kejujuran dan kredibilitas kita. Bangun kredebilitas dan tetaplah mengutamakan kebenaran hakiki yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak peduli dengan latar belakang keluarga, yang penting kita mau melakukan sesuatu dan kita berada di jalur yang tepat dan mau tumbuh juga berkembang. Orang tua kita siapa itu tidak penting, terpenting kita mau jadi anak yang bagaimana. Tidak peduli masa lalu, yang penting hari ini, esok dan seterusnya. Tak perlu pikirkan buruknya masa lalu, hinannya kita di masa lalu, yang penting kita mau memikirkan dan berubah mulai sekarang untuk hari esok. Tidak peduli siapa diri kita di mata orang lain, yang penting kita mau melihat orang lain dari sisi terbaiknya dan mau melihat diri kita dari sisi terbaik dan terburuknya. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki. Sukses bukan berarti serba bisa! Buah yang akan kita petik, ditentukan dari bagaimana kita menanamnya. Lakukan yang terbaik dan tetaplah konsiten. Bagaimana sekarang kita berproses, maka inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya. Tuhan tidak pernah tidur, kuasanya tahu mana hamba-hambanya yang mau melakukan sesuatu dan bekerja keras, berdo’a dan meyakini bahwa tuhan akan ikut campur tangan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita. Tetaplah optimis dan lakukanlah yang terbaik. Seberapa besar mimpi kita itu tidak penting, yang penting seberapa besar sesuatu yang kita kerjakan dan seberapa tepat kita melakukannya. Timing! “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan INI BAPAK SAYA. Tapi pemuda adalah seorang yang mengatakan INILAH SAYA”
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s