Menggantungkan Harapan Pada Pemilu?


Setiap kali Pemilihan Umum (Pemilu) datang, setiap kali harapan-harapan didengungkan. Orang-orang mulai bicara perubahan, perbaikan, dan pada saat yang sama menyudutkan bahkan mengolok-olok kesalahan, ketidakmajuan, dan kemunduran masa lalu. Ini seperti menjadi format lima tahunan setiap kali Pemilu.

Tapi toh nyatanya, banyak sekali persoalan yang tak beranjak maju ketika Pemilu usai. Orang juga kemudian gampang melupakan segala janji dan harapan yang pernah didengar. Hingga pada akhirnya negeri ini seperti terbelit dalam lingkaran dan terkungkung sendiri di dalam ragam persoalan—sementara negara lain terus melaju semakin jauh.

Namun Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshidiqie merasa optimistis Pemilu 2014 akan lebih baik ketimbang 2009. Pada 2009, katanya, KPU di berbagai daerah dibentuk telat, sedangkan pada 2014 sudah dibentuk, meski pun ada beberapa yang belum. Selain itu, anggota KPU yang dipecat DKPP juga akan sudah banyak yang diisi kembali.

Susunan KPU Pusat dan Bawaslu juga sudah siap menyelenggarakan Pemilu yang lebih baik lagi. Dia mengharapkan apa yang dilakukan DKPP dengan memecat anggota KPU di berbagai daerah yang bermasalah akan menimbulkan efek jera. Jimly juga bicara tentang integritas elektoral sistem untuk pelaksanaan Pemilu lebih baik.

Tentu saja kita harus sepakat dengan apa yang dikatakan Jimly itu. Meski demikian, berbagai kondisi objektif juga mesti diperhatikan untuk benar-benar kita bisa menggantungkan harapan pada pelaksanaan Pemilu.

Masalah DPT

Seringkali berbagai masalah yang kita hadapi bukan berasal dari mana-mana, tetapi datang dari persoalan kita sendiri. Kita seolah tak pernah siap dan tak pernah matang dalam memersiapkan sesuatu. Dalam setiap menjelang Pemilu seperti ini misalnya, persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) akan datang menyinggahi. Padahal ini adalah pesoalan klasik yang sangat penting yang selalu terjadi.

DPT yang kacau sangat rawan kecurangan dan akan mengurangi hak konstitusi rakyat, rawan diselewengkan dan memunculkan anggota legislatif siluman. Ada perbedaan basis data pemilih antara Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri). Kalau KPU menggunakan basis DPT 2009 sementara Kemendagri berbasis e-KTP. Kalau basisnya saja sudah berbeda maka hasilnya sudah pasti akan berbeda. Dalam kondisi seperti inilah pihak-pihak yang berkepentingan akan “bermain’ dalam angka-angka.

Ini tak urung menimbulkan kekisruhan Pemilu. Dalam Pemilu 2009 misalnya. Tercatat lebih dari dari tujuh juta pemilih fiktif dalam DPT. Banyak data salah dalam DPT, seperti adanya pemilih ganda, masuknya warga yang belum punya hak pilih serta warga yang sudah meninggal dunia.

Dalam kondisi DPT seperti ini penanganannya jauh lebih rumit lagi. Lihatlah betapa pihak-pihak itu hanya bisa saling menuding, bertindak menjadi bagian dari masalah ketimbang menjadi solusi. Nyatanya dari tahun ke tahun persoalan ini terus kambuh. Maka dengan kondisi dasar DPT yang meragukan seperti itu, tentu akan sangat sulit mencapai kondisi ideal seperti yang sering didengungkan.

Politik Transaksional

Satu lagi persoalan yang semakin menggejala adalah politik transaksional. Jenis politik ini dipercaya merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, namun nyatanya dianut secara massif baik oleh para politisi maupun oleh pemilih sendiri. Partai politik yang berkehendak menempatkan kader mereka di eksekutif, dan legislatif nyatanya menempuh berbagai cara untuk mendapatkan dukungan.

Pasalnya, sistem elektoral di Indonesia membutuhkan biaya tinggi apalagi bagi mereka yang tidak cukup populer. Persoalan ini disiasati dengan begitu saja melalui politik transaksional–para calon senang bisa terpilih, dan khalayak pemilih pun senang karena suaranya “dihargai”.

Dalam kondisi seperti ini, kemudian menjadi lazim jika kader partai yang menduduki jabatan strategis menyetor upeti kepada Parpol. Semua senang, kader senang, Paprol senang, apalagi ini adalah perilaku jamak dilakukan hampir tanpa kecuali. Sampai akhirnya kita semua tiba pada kondisi yang memiriskan. Bangsa ini mendadak berada di ambang kehancuran dengan berbagai kebobrokan sistem yang ada. Tetapi ketika kondisi ini terjadi, persoalannya jadi tidak gampang untuk memerbaikinya.

Apalagi kemudian ada kenyataan lain bahwa sistem politik kita yang transaksional ini cenderung oligarki. Sehingga ada penumpukkan kekuatan pada simpul-simpul tertentu. Kondisi seperti ini sebenarnya ideal saja sepanjang keseimbangan bisa terjadi. Tetapi ketika penumpukkan kekuasaan itu tak seirama dengan pemerataan pembangunan, maka ia akan dengan segera menimbulkan gejolak secara sporadic dan lagi-lagi politik transaksional adalah obat yang dipakai untuk penyembut instan-nya.

Apa yang terjadi kemudian adalah semacam ketergantungan jangka pendek dengan mengabaikan kepentingan jangka panjang. Dengan demikian secara pelan namun pastin negeri ini terus mendekati keterpurukannya.

Pikiran Instan

Pola pikir instan kemudian juga menjalari masyarakat pemilih. Fenomena Jokowi adalah contoh menarik yang menggambarkan kondisi ini. Sosok Jokowi yang berbicara dengan bahasa rakyat ternyata adalah sebuah pendekatan yang ternyata ampuh. Apalagi kemudian dia ataupun media massa mencitrakannya dekat dengan rakyat.

Akibatnya Jokowi yang cuma Wali Kota Solo itu bisa menembus menjadi Gubernur DKI Jakarta. Baru saja duduk sebagai gubernur, sekarang Jokowi malah digadang-gadang menjadi presiden RI—suatu hal yang tidak saja menciderai demokrasi, tetapi bahkan menghianati pilihan akyat. Jika merunut pada hak politik dan hak dukungan politik sebenarnya hal tersebut sah-sah saja—ia normatif sifatnya.

Tapi pandangan kritis dalam hal ini perlu dikedepankan untuk memberi gambaran yang lebih jernih tentang kondisi yang sebenarnya. Bahwa secara praktis modal Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta adalah gaya bicaranya yang menggunakan bahasa rakyat plus dukungan kuat dari media. Selebihnya, sosok ini tidak menonjol, seperti halnya kepala daerah pada umumnya.

Di Solo, dia bukan wali kota yang berprestasi, kalaupun ada capaiannya, masih merupakan sesuatu yang wajar saja. Tapi rakyat pemilih rupanya terbius dengan cara ini sehingga menjatuhkan pilihannya pada Jokowi. Dengan cara ini pula dia hendak jadi presiden, padahal, Jakarta belum sempat dibenahi seperti janji yang sering didengarkan.

Padahal untuk jadi presiden tidak cukup bisa berbicara dengan bahasa rakyat, karena segudang kerumitan mesti dipahami dan dikuasai. Tanpa itu maka bangsa ini hanya akan terjebak di dalam lubang keterpurukan yang sama dari Pemilu ke Pemilu. Pesan utama dari contoh Jokowi ini adalah, bahwa pola pikir instan telah merasuki sedemikian dalam benak khalayak. Dalam pola pikir seperti ini, maka tujuannya akan selalu jangka pendek seperti halnya politik transaksional yang diuraikan di atas. Maka Jokowi adalah lambang dari kacaunya pikiran khalayak saat ini.

Penutup

Dengan kondisi penuh persoalan di sana-sini menyangkut dasar pelaksanaan Pemilu, rasanya sulit untuk bisa benar-benar menggantungkan harapan pada Pemilu. Tapi tentu saja ini bukan ajakan untuk skeptis, tetapi ajakan untuk sama-sama berperan menjadi solusi dari setiap persoalan yang muncul. ***** ( Dr Drs H.ramli Lubis, SH, MM : Penulis adalah Mantan Wakil Wali Kota Medan. )

(Sumber) http://www.waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=29533:menggantungkan-harapan-pada-pemilu&catid=59:opini&Itemid=215

Tentang YHOHANNES NEOLDY, ST

Seberapa besar kita mengenal diri kita sendiri, tentunya hanya kita yang tau. Kita bisa berbicara A didepan orang mengenai diri kita. tapi bisakah kita mengatkan B pada Hati kita. tentunya tidak sejujurnya kita tidak dapat membohongi hati kita. kita suka terhadap sesuatu tapi dengan berbagai pertimbnagan kita malas mengungkapakan hal tersebut….kenapa dan mengapa??? tentunya hanya kita yang tahu. apakah sebegitu memalukannya hal yang kita inginkan sehingga kita tidak berani dan enggan mengungkapkannya. …saiYah… kLo suRuh descrIbe aBouT mY seLf.. gw seNdiri biNguNg.. seTiaP haRi aDa yG beRubaH.. eNTah yG baIk ataU yaNg buRux.. yG pasti gw bUkaN oRang yaNg meNgikuTi aRus.. BiaR kaN meReka di LUaR saNa beRmaiN deNgan maiNaNnya.. aKu deNgaN maiNaN ku seNdiri.. Gw kadaNg gILa kaDang meLankoLis kadaNg juga sTatis.. haNya terKadaNg hiduP ku teRLalu draMatis tuK ku ceRitaKan.. aKu oRang aNeH yG taK peRnah teRteBak oLeh Ku sendirI keMaNa jaLan yG ku tUju..HaL baRu.. aKu peMbuRu haL baRu.. di dUNia iNi banYak haL yg beLum ku keNaL.. MuNgkiN akaN ku haBis kaN hiduP ku uNTuK iTu daN bersEraH diRi seUtuHnya pada-Nya.. peTuaLaNg.. iTu meMaNg! oRaNg yG maLang.. Ku rasa aKu iNgiN puLaNg.. ke JaLan iTu.. BUkaN meLayaNg” spRti saaT ini.. aKu aneH.. peNuh deNgan diLemaTis.. taPi aKu taU siaPa aKu.. aH ribeT.. neoldy… neoldy… saMa saJa.. sILahkaN kaLIan yG meNiLai.. sUdaH banyaK Kok yaNg meniLai.. tesTi Ku saJa yG kaLIan baca tUk mengeNaL ku.. yG kadaNg giLa kadaNg aneH.. RibeTtttttttttt!!!!!!! PokoknYa yg pEngen taU gMn gW oR6nYa cobaLah utK l3bih deKaT..deKaT..DeKaT..Dekat..terUs..Terus..TerUs bElUm DeKat.. TRus dah ah BaHaYa terLaLu dEkaT……………….”WARNING” Lagi….. Saya lebih suka memulai dari bawah dan mendaki kepuncak dari pada memulai dari puncak dan harus tetap bertahan disana. Berbagai bunga serta kerikil dalam kehidupan ini telah sering aku rasakan, baik itu dalam bentuk cemoohan, cacian, sanjungan, sindiran, pujian, bahkan ada pula dukungan serta tekanan yang membuatku semakin hidup ini menjadi lebih bisa aku maknai. Tapi semua itu hanya pandangan orang dari luar saja, hati ini tak ada yang tau aku merasakan apa saat ini, sakitkah aku, pedihkan aku, teririskah aku atau senangkah aku, bahagiakan aku, ceriakah aku itu semua hanya hatiku yang membawa kemana aku harus melangkah mencari jalan yang benar2 lurus tanpa duri2. Meski kesedihan terus menggantung pada kelopak mata ini berusaha menarik terus dengan kuat air mataku untuk keluar dan terkadang tangisan itu tak bisa ku bendung sampai tersedu-sedu. Aku berjuang dengan tangnku sendiri hanya mama dan nenek ku yang perhatian untukku. Menghormati diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengendalikan diri sendiri. Tiga ini saja mengarahkan hidup pada kekuatan yang berddaulat. Ingatlah kebaikan seseorang pada kita Lupakan kesalahan seseorang pada kita Ingatlah kesalahan kita pada orang lain dan Lupakan kebaikan kita pada orang lain jangan berdusta bila tak ingin didustai… Ketika Seseorang melukai hatimu, tulislah diatas pasir agar terhapus angin. Bila kebaikan yang terjadi, pahatlah di atas batu agar tidak terhapus oleh angin. Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri. Kemandirian untuk mengisi waktu muda dengan hal-hal positif dan tidak takut akan adanya perbedaan. Serta kemandirian untuk selalu melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari penyelesaian permasalahan, tanpa berharap adanya kesempatan dari orang lain. “Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang … apalagi baru bertemu atau cuma melihat dari jauh! Kenali dulu orang itu, baru menilai! Bak pitua urang minang, “KOK NDAK TAU JO GADANG OMBAK CALIEK KAPANTAINYO, KOK NDAK TAU JO GADANG KAYU CALIK KA PANGKANYO” Kehidupan mengajarkan aku untuk bersikap bisa menerima kenyataan pengalaman mengajarkan aku akan arti kejujuran kebenaran tak akan penah terkalahkan oleh satu apapun karna saat kejujuran itu berkata maka kebenaran akan mengungkapkan semuanya salah bagi mereka yang menyalahkan kan arti kejujuran .. salah bagi mereka yang tak memperdulikan kebenaransalah untuk mereka yang menutup mata telinga hati dan pikiran untuk mengetahui kenyataan kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup ini butuh perjuangan. Dalam hidup ini perlu pengorbanan. Dan dalam hidup ini aku harus melakukan hal yang benar meskipun berbahaya!!! CINTA KEBAHAGIAAN KASIH SAYANG PERSAHABATAN TUMBUHNYA DARI HATI YANG TULUS. Aku akan mencintai orang yang mencitaiku dan akan menjaga mereka dengan sepenuh hati tidak akan menyakitinya dan lukai hatinya karna cinta semua akan terasa indah cuman GW yang bisa ngedapetin hatinya Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menytakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya. “Untuk melakukan suatu perubahan bukanlah tugas yg mudah. Kadang kita dihina, dicaci, diremehkan & bahkan difitnah. Kita harus berterimakasih kepada mereka untuk menunjukkan & membuktikan bahwa kita bisa. semua tantangan itu akan dapat teratasi.” Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting mau kemana kita akan melangkah. Tentukan tujuan dari sekarang, cintai prosesnya dan mimpikan hasil terbaiknya! Berapa besar kepercayaan orang, ditentukan oleh seberapa besar kejujuran dan kredibilitas kita. Bangun kredebilitas dan tetaplah mengutamakan kebenaran hakiki yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak peduli dengan latar belakang keluarga, yang penting kita mau melakukan sesuatu dan kita berada di jalur yang tepat dan mau tumbuh juga berkembang. Orang tua kita siapa itu tidak penting, terpenting kita mau jadi anak yang bagaimana. Tidak peduli masa lalu, yang penting hari ini, esok dan seterusnya. Tak perlu pikirkan buruknya masa lalu, hinannya kita di masa lalu, yang penting kita mau memikirkan dan berubah mulai sekarang untuk hari esok. Tidak peduli siapa diri kita di mata orang lain, yang penting kita mau melihat orang lain dari sisi terbaiknya dan mau melihat diri kita dari sisi terbaik dan terburuknya. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki. Sukses bukan berarti serba bisa! Buah yang akan kita petik, ditentukan dari bagaimana kita menanamnya. Lakukan yang terbaik dan tetaplah konsiten. Bagaimana sekarang kita berproses, maka inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya. Tuhan tidak pernah tidur, kuasanya tahu mana hamba-hambanya yang mau melakukan sesuatu dan bekerja keras, berdo’a dan meyakini bahwa tuhan akan ikut campur tangan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita. Tetaplah optimis dan lakukanlah yang terbaik. Seberapa besar mimpi kita itu tidak penting, yang penting seberapa besar sesuatu yang kita kerjakan dan seberapa tepat kita melakukannya. Timing! “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan INI BAPAK SAYA. Tapi pemuda adalah seorang yang mengatakan INILAH SAYA”
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s