Yang Terang dan Samar tentang Sultan Alam Bagagarsyah


Rupanya tim perumus pengusulan Sultan Alam Bagagarsyah (SAB) menjadi pahlawan nasional telah membentuk tim kecil untuk penyusunan “narasi buku tentang Sultan Alam Bagagarsyah” (Padang Ekspres, 22-4-2008). Agar tidak terjadi pengulangan-pengulangan, tentu ada baiknya tim merujuk tulisan-tulisan yang ditulis orang mengenai SAB, misalnya tulisan Jafri Datuak Bandaro Lubuak Sati terbitan Sanggar Budaya Minangkabau-Negeri Sembilan, Padang (2002), artikel Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II, “Sejarah Sultan Alam Bagagar Shah dalam Kemelut Perang Paderi” (Waspada, 6-4-2008).

Dengan demikian tim dapat lebih berkonsentrasi kepada pencarian kepustakaan, terutama sumber pertama tentang SAB. Misalnya, apakah nama akhir SAB ditulis “Bagagarsyah” (satu kata) atau “Bagagar Shah”(seperti ditulis Tuanku Luckman Sinar). Apakah ada sketsa dirinya dibuat pelukis Belanda atau ada keterangan naratif mengenai fisiknya yang memungkinkan kita membuat sketsa wajahnya (supaya jangan sampai salah seperti yang pernah terjadi pada Pahlawan Nasional Raja Ali Haji dari Riau [Aswandi Syahri, Batam Pos, November 2004]).

Pengusulan SAB menjadi pahlawan nasional patut disambut positif. Jika Pemerintah nanti menyetujuinya, itu mungkin dapat jadi paubek hati orang Minangkabau. Gelar itu tentu dapat dijadikan semacam simbol abadi pemersatu kembali Minangkabau yang pernah tercabik Perang Paderi sekaligus siratan kepada generasi Minangkabau kini dan akan datang untuk tidak lagi mencari (-cari) ketidakcocokan antara adat Minangkabau dan Islam.

Namun, dalam mewujudkan cita-cita pengangkatan SAB menjadi pahlawan nasional, kita tentu harus cermat dan tetap berpegang pada prinsip ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih. Artinya, harus dikumpulkan bukti sebanyak mungkin mengenai riwayat hidup, kepribadian, dan perjuangan SAB serta posisi sosial-politiknya selama Perang Paderi sampai dibuang ke Batavia dan wafat di sana pada 1849. Agar di belakang hari tidak muncul kritikan negatif mengenai status kepahlawanan SAB, seperti yang baru-baru ini ditujukan kepada Tuanku Imam Bonjol.

Artikel Tuanku Luckman Sinar yang telah disebutkan di atas secara umum telah memberikan gambaran mengenai posisi politis SAB dalam Perang Paderi. Dari tulisan itu didapat kesan bahwa ada sedikit banyak ‘bantuan’ Belanda yang memungkinkan SAB berhasil menduduki singgasana Pagaruyung yang memang menjadi haknya setelah Kaum Paderi berusaha menghapus dinasti ‘keturunan’ Iskandar Zulkarnain itu.  Namun, belakangan ternyata beliau berbalik memusuhi Belanda. Menurut saya, Tim Perumus (melalui tim kecil tadi) harus dapat menjelaskan kontradiksi ini.

Apapun alasannya, baik pribadi maupun atas nama rakyat, termasuk dugaan bahwa SAB ingin mengukuhkan kembali imperium Minangkabau, seperti dituduhkan Kompeni, perlawanannya terhadap Belanda tentu menjadi salah satu point positif bagi pengusulan cucu Raja Muningsyah ini menjadi pahlawan nasional. Sebaliknya, banyak  hal yang masih perlu ditelusuri lebih jauh yang terkait dengan kiprah SAB pada periode awal kembalinya beliau dari pelarian bersama kakeknya di Lubuk Jambi sampai saat turunnya keputusan Belanda memberhentikannya sebagai Regen Tanahdatar.

Tim perumus harus mampu membuktikan, dengan bersandar pada kepustakaan yang dapat dipertanggungjawabkan, bahwa kepribadian SAB dan kiprah politiknya pada periode itu tidak berpotensi memberi kecacatan apabila beliau nanti diangkat menjadi pahlawan nasional. Sehubungan dengan itu, salah satu hal yang paling penting untuk dijelaskan adalah siapa sesungguhnya yang membunuh mediator “Said Salimoe’l Djafried” yang diminta Belanda menjadi penghubung dengan pihak Paderi di Darek? Dalam sejarah banyak ulama keturunan Arab yang dipercaya menjadi mediator antara pihak Kompeni dan pemimpin pribumi yang bertikai karena kharisma religiusnya–sebut saja seperti Habib Abdurrahman az-Zahir semasa Perang Aceh, dll.

Said al-Djafried sukses menjembatani Kaum Paderi dan Belanda sehingga kedua pihak yang sedang berperang itu melakukan gencatan senjata dan bersedia menandatangani kesepakan damai di Padang pada 15 November 1825 (De Stuers 1849, Jilid I:106). Namun, pada misi berikutnya ke Darek, Said al-Djafried beserta seorang Arab lain yang menemaninya dibunuh di sebuah surau di Tanahdatar. Tentang siapa pembunuhnya, muncul kabar yang simpang siur. Ada yang menduga pembunuhan itu dilakukan oleh orang-orang suruhan Regen Tanahdatar (yang waktu itu dijabat oleh SAB) yang khawatir akan dicopot dari jabatannya. Kaum Paderi mendesak De Stuers agar Regen SAB segera diganti dan mereka mengusulkan Said al-Djafried sebagai penggantinya. Mereka menganggap Regen Tanahdatar itu gagal menghapuskan kebiasaan-kebiasaan adat yang dianggap bertentangan dengan Islam seperti menyabung ayam dan main judi. Tetapi ada juga dugaan pembunuhan itu dilakukan oleh orang-orang Tuanku Lintau, Panglima Paderi di Tanahdatar, walau alasan logisnya sangat lemah. Menurut hemat saya, poin ini–yang kebentulan menyangkut nama SAB–perlu ditelusuri dan sangat penting dijelaskan dan diklarifikasi dalam “narasi buku tentang SAB” yang akan ditulis oleh Tim Kecil yang sudah dibentuk itu, supaya tidak menimbulkan preseden di belakang hari.

Lain dari itu, posisi SAB dalam ‘penyerahan’ darek kepada Belanda di Padang , yang dilakukan di bawah sumpah menjujung Al-Quran dan disaksikan oleh Panglima Padang, Sultan Mansyur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku Bandaro Rajo Johan, pada 21 Februari 1821 (Amran 1981:409) harus jelas juga. Demikian pula halnya sejumlah keterangan dalam beberapa kepustakaan klasik yang memberi gambaran seorang-olah keluarga Pagaruyung yang ‘diselamatkan’ Kompeni di Padang menjadi informan bagi Belanda yang sedang menyusun strategi untuk menginvasi darek.

Sejauh yang saya ketahui, nada tuduhan seperti itu tak terdengar ditujukan kepada Inggris yang juga sudah melindungi sisa dinasti Pagaruyung di Padang sebelum Sumatera Barat diserahkan lagi kepada Belanda. Berbeda dengan Belanda, Inggris di Sumatera yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles tidak berniat campur tangan lebih jauh dalam konflik sesama orang Minang itu. Justru Raffles punya rencana besar membangun ekonomi Sumatera Barat yang akan memberi kejayaan kepada Kerajaan Britania (Radjab 1954:39-40).

Minat Raffles untuk membangun Minangkabau–tentu saja tetap dalam perspektif kolonisasi Eropa terhadap Asia, tapi jelas berbeda dengan cara-cara yang dilakukan Belanda–terefleksi dari perjalanannya ke Pagaruyung (16-30 Juli 1818) dimana dia ditemani oleh ahli geologi dan botani untuk mengumpulkan data mengenai potensi ekonomi Sumatera Barat. Ekspedisi ilmiah yang awal tentang alam Minangkabau yang penuh tantangan itu digambarkan dalam “Syair Peri Tuan Raffles Pegi ke Minangkabau” yang terbit dalam Jurnal Malayan Miscellanies (lihat: Raimy Ché-Ross 2003).

Terlambat tiga bulan dari  jadwal yang ditetapkan bosnya, Lord Hasting, di Calcutta, dengan berat hati Thomas Stamford Raffles harus menyerahkan Sumatera Barat kepada Belanda yang punya karakter kolonialis yang berbeda dengan Inggris pada bulan Mei 1819.

Penyerahan itu telah membelokkan satu jalur jalan sejarah Minangkabau, yang di dalamnya SAB menjadi salah seorang aktornya, dan yang juga telah menyebabkan mimpi tentang kota Padang yang maju, kaya dan makmur akhirnya diwujudkan Raffles di sebuah pulau berawa yang penuh lipan dan buaya di ujung Selat Malaka, yang kini jadi sebuah kota utama dunia: Singapura.

Penulis:

Suryadi, Dosen dan Peneliti Pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië, Universiteit Leiden, Belanda

Padang Ekspress : Kamis, 24 April 2008

http://niadilova.blogdetik.com/

http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/21/yang-terang-dan-samar-tentang-sultan-alam-bagagarsyah/

Tentang YHOHANNES NEOLDY, ST

Seberapa besar kita mengenal diri kita sendiri, tentunya hanya kita yang tau. Kita bisa berbicara A didepan orang mengenai diri kita. tapi bisakah kita mengatkan B pada Hati kita. tentunya tidak sejujurnya kita tidak dapat membohongi hati kita. kita suka terhadap sesuatu tapi dengan berbagai pertimbnagan kita malas mengungkapakan hal tersebut….kenapa dan mengapa??? tentunya hanya kita yang tahu. apakah sebegitu memalukannya hal yang kita inginkan sehingga kita tidak berani dan enggan mengungkapkannya. …saiYah… kLo suRuh descrIbe aBouT mY seLf.. gw seNdiri biNguNg.. seTiaP haRi aDa yG beRubaH.. eNTah yG baIk ataU yaNg buRux.. yG pasti gw bUkaN oRang yaNg meNgikuTi aRus.. BiaR kaN meReka di LUaR saNa beRmaiN deNgan maiNaNnya.. aKu deNgaN maiNaN ku seNdiri.. Gw kadaNg gILa kaDang meLankoLis kadaNg juga sTatis.. haNya terKadaNg hiduP ku teRLalu draMatis tuK ku ceRitaKan.. aKu oRang aNeH yG taK peRnah teRteBak oLeh Ku sendirI keMaNa jaLan yG ku tUju..HaL baRu.. aKu peMbuRu haL baRu.. di dUNia iNi banYak haL yg beLum ku keNaL.. MuNgkiN akaN ku haBis kaN hiduP ku uNTuK iTu daN bersEraH diRi seUtuHnya pada-Nya.. peTuaLaNg.. iTu meMaNg! oRaNg yG maLang.. Ku rasa aKu iNgiN puLaNg.. ke JaLan iTu.. BUkaN meLayaNg” spRti saaT ini.. aKu aneH.. peNuh deNgan diLemaTis.. taPi aKu taU siaPa aKu.. aH ribeT.. neoldy… neoldy… saMa saJa.. sILahkaN kaLIan yG meNiLai.. sUdaH banyaK Kok yaNg meniLai.. tesTi Ku saJa yG kaLIan baca tUk mengeNaL ku.. yG kadaNg giLa kadaNg aneH.. RibeTtttttttttt!!!!!!! PokoknYa yg pEngen taU gMn gW oR6nYa cobaLah utK l3bih deKaT..deKaT..DeKaT..Dekat..terUs..Terus..TerUs bElUm DeKat.. TRus dah ah BaHaYa terLaLu dEkaT……………….”WARNING” Lagi….. Saya lebih suka memulai dari bawah dan mendaki kepuncak dari pada memulai dari puncak dan harus tetap bertahan disana. Berbagai bunga serta kerikil dalam kehidupan ini telah sering aku rasakan, baik itu dalam bentuk cemoohan, cacian, sanjungan, sindiran, pujian, bahkan ada pula dukungan serta tekanan yang membuatku semakin hidup ini menjadi lebih bisa aku maknai. Tapi semua itu hanya pandangan orang dari luar saja, hati ini tak ada yang tau aku merasakan apa saat ini, sakitkah aku, pedihkan aku, teririskah aku atau senangkah aku, bahagiakan aku, ceriakah aku itu semua hanya hatiku yang membawa kemana aku harus melangkah mencari jalan yang benar2 lurus tanpa duri2. Meski kesedihan terus menggantung pada kelopak mata ini berusaha menarik terus dengan kuat air mataku untuk keluar dan terkadang tangisan itu tak bisa ku bendung sampai tersedu-sedu. Aku berjuang dengan tangnku sendiri hanya mama dan nenek ku yang perhatian untukku. Menghormati diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengendalikan diri sendiri. Tiga ini saja mengarahkan hidup pada kekuatan yang berddaulat. Ingatlah kebaikan seseorang pada kita Lupakan kesalahan seseorang pada kita Ingatlah kesalahan kita pada orang lain dan Lupakan kebaikan kita pada orang lain jangan berdusta bila tak ingin didustai… Ketika Seseorang melukai hatimu, tulislah diatas pasir agar terhapus angin. Bila kebaikan yang terjadi, pahatlah di atas batu agar tidak terhapus oleh angin. Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri. Kemandirian untuk mengisi waktu muda dengan hal-hal positif dan tidak takut akan adanya perbedaan. Serta kemandirian untuk selalu melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari penyelesaian permasalahan, tanpa berharap adanya kesempatan dari orang lain. “Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang … apalagi baru bertemu atau cuma melihat dari jauh! Kenali dulu orang itu, baru menilai! Bak pitua urang minang, “KOK NDAK TAU JO GADANG OMBAK CALIEK KAPANTAINYO, KOK NDAK TAU JO GADANG KAYU CALIK KA PANGKANYO” Kehidupan mengajarkan aku untuk bersikap bisa menerima kenyataan pengalaman mengajarkan aku akan arti kejujuran kebenaran tak akan penah terkalahkan oleh satu apapun karna saat kejujuran itu berkata maka kebenaran akan mengungkapkan semuanya salah bagi mereka yang menyalahkan kan arti kejujuran .. salah bagi mereka yang tak memperdulikan kebenaransalah untuk mereka yang menutup mata telinga hati dan pikiran untuk mengetahui kenyataan kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup ini butuh perjuangan. Dalam hidup ini perlu pengorbanan. Dan dalam hidup ini aku harus melakukan hal yang benar meskipun berbahaya!!! CINTA KEBAHAGIAAN KASIH SAYANG PERSAHABATAN TUMBUHNYA DARI HATI YANG TULUS. Aku akan mencintai orang yang mencitaiku dan akan menjaga mereka dengan sepenuh hati tidak akan menyakitinya dan lukai hatinya karna cinta semua akan terasa indah cuman GW yang bisa ngedapetin hatinya Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menytakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya. “Untuk melakukan suatu perubahan bukanlah tugas yg mudah. Kadang kita dihina, dicaci, diremehkan & bahkan difitnah. Kita harus berterimakasih kepada mereka untuk menunjukkan & membuktikan bahwa kita bisa. semua tantangan itu akan dapat teratasi.” Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting mau kemana kita akan melangkah. Tentukan tujuan dari sekarang, cintai prosesnya dan mimpikan hasil terbaiknya! Berapa besar kepercayaan orang, ditentukan oleh seberapa besar kejujuran dan kredibilitas kita. Bangun kredebilitas dan tetaplah mengutamakan kebenaran hakiki yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak peduli dengan latar belakang keluarga, yang penting kita mau melakukan sesuatu dan kita berada di jalur yang tepat dan mau tumbuh juga berkembang. Orang tua kita siapa itu tidak penting, terpenting kita mau jadi anak yang bagaimana. Tidak peduli masa lalu, yang penting hari ini, esok dan seterusnya. Tak perlu pikirkan buruknya masa lalu, hinannya kita di masa lalu, yang penting kita mau memikirkan dan berubah mulai sekarang untuk hari esok. Tidak peduli siapa diri kita di mata orang lain, yang penting kita mau melihat orang lain dari sisi terbaiknya dan mau melihat diri kita dari sisi terbaik dan terburuknya. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki. Sukses bukan berarti serba bisa! Buah yang akan kita petik, ditentukan dari bagaimana kita menanamnya. Lakukan yang terbaik dan tetaplah konsiten. Bagaimana sekarang kita berproses, maka inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya. Tuhan tidak pernah tidur, kuasanya tahu mana hamba-hambanya yang mau melakukan sesuatu dan bekerja keras, berdo’a dan meyakini bahwa tuhan akan ikut campur tangan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita. Tetaplah optimis dan lakukanlah yang terbaik. Seberapa besar mimpi kita itu tidak penting, yang penting seberapa besar sesuatu yang kita kerjakan dan seberapa tepat kita melakukannya. Timing! “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan INI BAPAK SAYA. Tapi pemuda adalah seorang yang mengatakan INILAH SAYA”
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Minangkabau. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s