Bayang Mengungkap Rahasia Minangkabau


Pengantar Penulis

Nagari Bayang ternyata banyak kehilangan sejarahnya, kehilangan struktur dan rambu-rambu adatnya. Satu-satunya yang masih tertinggal hanya sebuah salinan tulisan tangan, dari catatan tulisan Arab Melayu, peninggalan Pucuk Bulek Urek Tunggang Nagari Bayang Nan Tujuh di Koto Berapak yang sempat dialih aksarakan. Tulisan itu berupa Hasil Keputusan Persidangan Ninik Mamak Penghulu Adat se-Nagari Bayang, tahun 1915. Naskah itulah yang jadi pegangan Adat sampai hari ini, di Nagari Bayang. Namun, sejauh manakah Kerapatan Adat Nagari (KAN) di nagari-nagari Bayang, mampu untuk mensosialisasikan dan mengaplikasikan pesan-pesan adat itu, kepada anak kemenakan masyarakat mereka sendiri, sekarang? Bahkan sejauh manakah Ninik Mamak Penghulu Adat anggota KAN di nagari-nagari Bayang itu sendiri menguasai penge tahuan adat, dengan nilai-nilai yang dapat dijadikan acuan bagi rancangan pembangunan nagari Bayang masa depan, sementara :”Cermin” nya tidak ada ? .

Ninik Mamak Penghulu Adat dan jajarannya sebagai anggota KAN khususnya di nagari-nagari Bayang bak karakok tumbuh di batu, sementara “datuak-datuak baru” tetap dilantik dan dikukuhkan bahkan “ditambah”. Sebagian besar alasannya adalah karena anak kemenakan sudah berkembang, dengan dalil dan ketentuan adat : mangguntiang siba baju, baju salai dibagi duo, mambangkik batang tarandam, managakkan pangulu baru, sampai kepada “bungo bakarang”. Kenyataannya Penghulu Andiko Adat bertambah banyak, sementara kualitas pengetahuan adatnya untuk menjaga martabatnya sebagai Ninik Mamak Penghulu tetap menjadi pertanyaan anak kemenakan. Siapa dan dimanakah sekarang “Urang Tuo Adat Bayang Nan Tujuh, Koto Nan Salapan” itu, dimanakah “camin nan tiado kabue, palito nan tiado padam” itu sekarang ? Dimanakah “lubuak tampek manimbo” dimanakah “aie bayang nan janieh, tampek bakacimpuang mandi” itu, sekarang ? Tidak aneh pula kalau seorang “anak Bayang” (putra nagari Bayang seorang dosen di Perguruan Tinggi dengan predikat S2 telah menulis “Bayang” seenak perutnya sendiri.
Setidak-tidaknya penulis merasakan hal ini sejak tahun 1976 ketika penulis baru menjunjung amanah sako kaum dalam pesukuan penulis sendiri, di Kotoberapak. Sebagian besar generasi ini sepanjang observasi penulis yang berkali-kali penulis lakukan di Bayang ini, ternyata generasinya tidak lagi mengerti adat dan tidak lagi mewarisi tulisan atau bukti-bukti peninggalan perjalanan sejarah negeri tanah tumpah darahnya sendiri, yang sepanjang “zaman konflik” selalu menjadi sasaran untuk “dibumi hanguskan”. Kalaupun ada, ternyata sudah tutur dan petuturan compang camping, bahkan “carito kusuik sarang tampuo”.
Kondisi inilah yang mendorong penulis untuk menyusun kembali naskah peninggalan ini, yang merupakan hasil rumusan yang telah disepakati melalui Musyawarah Besar Ninik Mamak Penghulu Adat Nagari Bayang di tahun 1915. Walaupun pada dasarnya Musyawarah Adat itu diselenggarakan atas permintaan Pemerintahan Hindia Belanda untuk menyusun kembali “adat dan monografi nagari masing-masing” untuk digunakan sebagai acuan untuk “memecah belah” kesatuan dan persatuan adat nagari sebelumnya demi kepentingan kekuasaan mereka.
Seperti sistem kekuasaan yang selama ini bertampuk ke Yang Dipertuan Daulat Rajo Alam Minangkabau Pagaruyung, melalui jajaran Basa Ampek Balai, yang mengurus Luhak dan Rantaunya, dengan cara bajanjang naiek batanggo turun, sesuai sistem adat Kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago, digeser Belanda dengan pemerintahan Regen dan Tuanku Laras, yang kemudian menghapusnya sendiri, dan membentuk pemerintahan “nagari gaya baru” menurut selera Belanda zaman itu. Musyawarah Besar Ninik Mamak Penghulu Adat Nagari tersebut dilaksanakan serentak (1915-1916) di seluruh nagari-nagari se-Alam Minangkabau dalam wilayah residensi Sumatera Barat. Secara umum, hasilnya bersifat sekedar “menyenangkan hati” pihak penjajah yang berkuasa waktu itu, dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi masa itu, tanpa menyebut peristiwa masa lalu, yang sudah berlalu.
Namun esensinya yang dapat kita terima untuk dilestarikan, dikembangkan dan diteruskan kepada generasi zaman adalah tetap dan masih dalam kerangka “sepanjang adat yang diterima, warih nan dijawek pusako nan batolong” di nagari masing-masing sesuai dengan falsafah Adat Alam Minangkabau di Sumatera Barat.

Terima kasih yang amat besar sebenarnya perlu disampaikan kepada beliau almarhum Haji Mukhtar (wafat th. ) Sekretaris Kerapatan Adat Bayang Nan Tujuh pada zamannya, yang dengan tekun dan rajinnya mau menyalinkannya kembali dari naskah peninggalan ayah kandung beliau H. Mohammad Thaher Datuak Bagindo Maharajo Lelo, Pucuek Bulek Urek Tunggang Bayang Nan Tujuah Koto, Penghulu Kepala Nagari Bayang Nan Tujuah sampai zaman Jepang (1916-1944) yang meninggal dunia karena sakit tua (wf. 1947). Beliau H. Mohammad Thaher Datuak Bagindo Maharajo Lelo ini adalah kemenakan kandung yang menerima waris dari amak beliau Marah Parit (Si Parik) Gelar Datuk Bagindo (Maharajo Lelo) yang menjadi Tuanku Laras I sejak Nagari Bayang ditetapkan sebagai sebuah Kelarasan oleh Pemerintahan Belanda.

Terima kasih juga dihaturkan kepada Datuak Panduko Simarajo Ketua KAN Kotoberapak yang telah membagi-bagikan fotocopy salinan itu kepada Ninik Mamak Penghulu Adat anggota KAN Kotoberapak yang berminat untuk dapat dipergunakan sebagai “Cermin”, sumber kepustakaan Adat satu-satunya yang berlaku dan diberlakukan sah oleh di nagari-nagari khususnya oleh KAN Kotoberapak Bayang. Walaupun itu hanya untuk sebagian kecil Ninik Mamak saja.

Tak kenal maka tak tahu
tak tahu maka tak saying
tak sayang maka tak mewarisi

Dengan motto “kain dipakai usang, adat dipakai baru”.

Kok lai suto uleh jo suto
kok tak suto uleh jo banang
kok tak banang uleh jo mansiang
mansiang kok lai ka jadi suto juo.

Saran dan kritik selalu terbuka dan sangat berharga bagi penyempurnaan inventarisasi nilai-nilai sejarah dan budaya negeri kita untuk tidak hilang di telan masa. Semoga tulisan ini dapat diterima dan disebar luaskan kepada masyarakat nagari, khususnya generasi muda pemerhati budaya sebagai informasi awal tentang keberadaan nagari-nagari sepanjang Pesisir Selatan, khususnya Nagari Bayang, Sejarah dan Budayanya.

Banyak versi tentang cerita asal-usul nagari Bayang, namun sesuai kesepakatan yang diwarisi dan diterima sebagai sako nan bajawek, pusako nan ditarimo oleh Ninik Mamak Penghulu Adat yang akan diteruskan kepada anak kemenakan dalam jajaran pesukuannya masing-masing di Nagari Bayang, jelas Tambo Bayang 1915 merupakan naskah warisan yang berharga untuk dipelihara dan diteruskan sebagai acuan dan pegangan adat yang berlaku sah sampai hari ini.

Sejak tahun 1730, tiga orang tokoh Pendiri, Pemimpin dan Pendekar Pejuang keturunan raja-raja dari Koto Nan Tigo yakni Kinari, Koto Anau dan Muaro Paneh yang memimpin penyerangan untuk mengusir VOC, Kompeni Belanda yang menjarah Bayang dan Salido melakukan reformasi total terhadap Negeri Bayang, yakni Niniek-Niniek Datuk Nan Bagajabiang, Datuk Nan Bakupiah, dan Datuk Nan Karamat, menata negari Bayang yang telah porak poranda akibat perang.

Tambo Bayang, 1915 yang sampai sekarang terpakai dan dipakai sebagai acuan adat di masing-masing nagarinya, menyebut Bayang terdiri dari dua belahan wilayah adat (budaya), yakni :

1). Nagari Pulut-Pulut Koto Nan Salapan sampai ke Taratak Nan Tigo dan Koto Nan Tigo sehingga kaki gunung hilir yaitu ke mudiknya berjawatan dengan Sakek, ke hilirnya berjawatan dengan Batu Berkarut atau Bayang Nan Tujuh Koto.

2). Nagari Bayang Nan Tujuah Koto, sampai ke Kapak Rembai-nyo dan Kandungan-nyo terus ke Amban Puruak-nyo Lumpo sehingga riak nan badabua, berjawatan dengan Selidah Persuarangan Salido dan kemudian sehingga Batu Berkarut berjawatan dengan Koto Nan Salapan Pulut-Pulut.

Bayang, pada awal berdirinya dipimpin dan diulayati oleh Niniek Datuak Nan Bagajabiang dari Suku Melayu sebagai perintis yang mencancang latieh Nagari Bayang yang kemudian didudukkan sebagai Raja dengan gelar Yang Dipatuan Sambah, Datuk Bagindo Sutan Besar.

Niniek Datuk Nan Bakupiah Ameh sebagai Ampanglimo Parang dari Suku Tanjung Sikumbang yang berkedudukan sebagai Pamuncak Alam Nagari Bayang dan Niniek Datuak Nan Keramat dari suku Caniago berkedudukan sebagai Raja Ibadat yang digelari Mangkhudum dalam adat. Dengan demikian Nagari Bayang pada awalnya dipimpin oleh Raja, Pamuncak, dan Mangkhudum. (mengacu kepada limbago Tungku Nan Tigo Sajarangan, yakni Rajo Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat).

Dalam perjalanannya kemudian di Bayang Nan Tujuah Koto, sebutan Pamuncak berganti nama menjadi Pucuak Bulek Urek Tunggang dengan sistem adat Bodi Caniago yang dipakai masyarakatnya. Oleh karena itu fungsi “Pucuek Bulek” seharusnya “gadang balega” sesuai dengan prinsip adat Bodi Caniago. Pemerintahan Belanda yang berkuasa saat itu selalu menggeser berbagai pranata sosial adat untuk kepentingannya, sehingga jabatan-jabatan strategis dalam adat dihapuskan. Terbukti Belanda membentuk pemerintahan dan mengangkat seorang Tuanku Laras sebagai pemimpin pemerintahan tetapi kemudian sistim kelarasan itu dihapuskan sendiri oleh Belanda dan diganti dengan pemerintahan nagari bentukan Belanda.
Dengan berlakunya Undang-Undang Nagari (Nagari Ordonansi) tahun 1915 dimana juga kedudukan Laras dihapuskan, dan Bayang dijadikan delapan wilayah pemerintahan yang disebut Nagari, yakni:

1. Nagari Gurun Panjang,
2. Nagari Pasar Baru,
3. Nagari Talaok,
4. Nagari Koto Berapak,
5. Nagari Puluik-Puluik,
6. Nagari Koto Ranah,
7. Nagari Muaro Air, dan
8. Nagari Pancuang Tebal.

Nagari inilah kemudian dianggap oleh masyarakat sebagai nagari menurut pemerintahan adat, pada hal ini adalah bentukan semasa Pemerintahan Hindia Belanda. Belanda juga dengan mudah selalu menggeser bahkan menghapuskan berbagai pranata sosial adat untuk kepentingan penjajahannya, sehingga jabatan-jabatan strategis dalam adat secara halus dihilangkan. Padahal berdasarkan Tambo Nagari Bayang 1915 tersebut, seharusnya yang menjadi “Pucuk Bulek” didampingi oleh dua jabatan adat yang mencerminkan unsur tungku nan tigo sajarangan di nagari Bayang. yakni Rajo Alam, Rajo Adat dan Rajo Ibadat. Pucuk Bulek ka ganti Rajo Alam, Pamuncak ka ganti Rajo Adat dan seorang Mangkudum ka ganti Rajo Ibadat.

Demikian juga dalam struktur kepenghuluan di Nagari Bayang, tidak lagi memiliki unsur Manti Adat dan Kapalo Ampanglimo Mudo dalam Adat pesukuan mereka, yang tanpa disadari telah dihapuskan begitu saja sejak zaman konflik dengan Kompeni Belanda. Dapat diterima akal, karena Manti Adat adalah seorang Cendekiawan ahli undang dan hukum dalam adat, dan Kapalo Ampanglimo Mudo dalam Adat adalah Hulubalang/ Pemimpin yang menghimpun dubalang-dubalang muda / kesatria pejuang dari kalangan generasi muda yang dapat membahayakan pemerintahan penjajahan. Karena Bayang dianggap keras dan rewel, jabatan adat itu dihapuskan. Ini juga menyebabkan terjadinya pembodohan dalam masyarakat adat di Bayang.
Jabatan adat yang ada sekarang, adalah Ninik Mamak Penghulu Andiko Adat, yang dipanggilkan Datuak, seorang Panungkek Datuak, dan seorang Alim Adat dalam kaum yang menduduki jabatan adat di bidang keagamaan/ibadat, antara lain disebut Imam, Malin atau Khatib sesuai dengan gelar sako adapt yang diwarisi masing-masing pesukuannya.
Tampaknya Belanda sengaja menghapuskan jabatan strategis ini untuk melemahkan kekuatan adat nagari Bayang yang dianggap keras dalam menentang Belanda. Sehingga dengan menghapuskan jabatan strategis dalam adat, Kompeni Belanda lebih mudah mengatur dan mengendalikan kekuasaannya. Padahal seperti juga Alim Ulama yang memakai awal gelar adatnya dengan “Imam”, “Malin” atau “Khatib”, seharusnya demikian pula untuk jabatan Manti Adat (Cadiek Pandai, Ahli Hukum Adat) dan Dubalang Adat (Ninik Mamak Pandeka, Kapalo Urang Mudo dalam Suku) Kedua jabatan adat ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jajaran Niniek Mamak Penghulu Adat dalam kaum pesukuannya masing-masing, yang disebut Urang Ampek Jinih (Urang Bajinih Nan Ampek) yang terdiri dari Pangulu, Manti, Imam dan Dubalang /Kapalo Urang Mudo.

Bahkan ada satu lagi jabatan adat yang penting di luar Nan Ampek Jinih yakni Urang Tuo Adat. Akibatnya “Adat” kehilangan peran dalam pemerintahan, akhirnya kekuatan kesatuannya menjadi kerdil, masyarakat adat menjadi kehilangan pegangan pengetahuannya. Kaum adat hanya didudukkan dalam barisan Ninik Mamak Penghulu sebagai Andiko Adat, yang memimpin kaum pesukuannya masing-masing, Alim Ulama “berjalan sendiri”, Manti Cadiek Pandai dan Generasi Muda Bayang Nan Tujuah, Koto Nan Salapan kehilangan rambu-rambu adatnya.

Barangkali memang tidak mudah untuk menyusunnya kembali, disaat pengetahuan Adat itu sendiri saat ini nyaris tidak diwarisi atau diwariskan lagi. Sehingga sampai sekarang tidak digubris lagi oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) Bayang yang seharusnya berwenang untuk itu.

Kotoberapak nagari rimbo
bapaga bukik bakuliliang
sadang dunsanak lai tak ibo
kok kunun urang bakuliliang.

Emral Djamal Dt. Emral Djamal Datuk Rajo Mudo
Anggota KAN – Kotoberapak Bayang
Kab. Pesisir Selatan.

Tentang YHOHANNES NEOLDY, ST

Seberapa besar kita mengenal diri kita sendiri, tentunya hanya kita yang tau. Kita bisa berbicara A didepan orang mengenai diri kita. tapi bisakah kita mengatkan B pada Hati kita. tentunya tidak sejujurnya kita tidak dapat membohongi hati kita. kita suka terhadap sesuatu tapi dengan berbagai pertimbnagan kita malas mengungkapakan hal tersebut….kenapa dan mengapa??? tentunya hanya kita yang tahu. apakah sebegitu memalukannya hal yang kita inginkan sehingga kita tidak berani dan enggan mengungkapkannya. …saiYah… kLo suRuh descrIbe aBouT mY seLf.. gw seNdiri biNguNg.. seTiaP haRi aDa yG beRubaH.. eNTah yG baIk ataU yaNg buRux.. yG pasti gw bUkaN oRang yaNg meNgikuTi aRus.. BiaR kaN meReka di LUaR saNa beRmaiN deNgan maiNaNnya.. aKu deNgaN maiNaN ku seNdiri.. Gw kadaNg gILa kaDang meLankoLis kadaNg juga sTatis.. haNya terKadaNg hiduP ku teRLalu draMatis tuK ku ceRitaKan.. aKu oRang aNeH yG taK peRnah teRteBak oLeh Ku sendirI keMaNa jaLan yG ku tUju..HaL baRu.. aKu peMbuRu haL baRu.. di dUNia iNi banYak haL yg beLum ku keNaL.. MuNgkiN akaN ku haBis kaN hiduP ku uNTuK iTu daN bersEraH diRi seUtuHnya pada-Nya.. peTuaLaNg.. iTu meMaNg! oRaNg yG maLang.. Ku rasa aKu iNgiN puLaNg.. ke JaLan iTu.. BUkaN meLayaNg” spRti saaT ini.. aKu aneH.. peNuh deNgan diLemaTis.. taPi aKu taU siaPa aKu.. aH ribeT.. neoldy… neoldy… saMa saJa.. sILahkaN kaLIan yG meNiLai.. sUdaH banyaK Kok yaNg meniLai.. tesTi Ku saJa yG kaLIan baca tUk mengeNaL ku.. yG kadaNg giLa kadaNg aneH.. RibeTtttttttttt!!!!!!! PokoknYa yg pEngen taU gMn gW oR6nYa cobaLah utK l3bih deKaT..deKaT..DeKaT..Dekat..terUs..Terus..TerUs bElUm DeKat.. TRus dah ah BaHaYa terLaLu dEkaT……………….”WARNING” Lagi….. Saya lebih suka memulai dari bawah dan mendaki kepuncak dari pada memulai dari puncak dan harus tetap bertahan disana. Berbagai bunga serta kerikil dalam kehidupan ini telah sering aku rasakan, baik itu dalam bentuk cemoohan, cacian, sanjungan, sindiran, pujian, bahkan ada pula dukungan serta tekanan yang membuatku semakin hidup ini menjadi lebih bisa aku maknai. Tapi semua itu hanya pandangan orang dari luar saja, hati ini tak ada yang tau aku merasakan apa saat ini, sakitkah aku, pedihkan aku, teririskah aku atau senangkah aku, bahagiakan aku, ceriakah aku itu semua hanya hatiku yang membawa kemana aku harus melangkah mencari jalan yang benar2 lurus tanpa duri2. Meski kesedihan terus menggantung pada kelopak mata ini berusaha menarik terus dengan kuat air mataku untuk keluar dan terkadang tangisan itu tak bisa ku bendung sampai tersedu-sedu. Aku berjuang dengan tangnku sendiri hanya mama dan nenek ku yang perhatian untukku. Menghormati diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengendalikan diri sendiri. Tiga ini saja mengarahkan hidup pada kekuatan yang berddaulat. Ingatlah kebaikan seseorang pada kita Lupakan kesalahan seseorang pada kita Ingatlah kesalahan kita pada orang lain dan Lupakan kebaikan kita pada orang lain jangan berdusta bila tak ingin didustai… Ketika Seseorang melukai hatimu, tulislah diatas pasir agar terhapus angin. Bila kebaikan yang terjadi, pahatlah di atas batu agar tidak terhapus oleh angin. Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri. Kemandirian untuk mengisi waktu muda dengan hal-hal positif dan tidak takut akan adanya perbedaan. Serta kemandirian untuk selalu melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari penyelesaian permasalahan, tanpa berharap adanya kesempatan dari orang lain. “Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang … apalagi baru bertemu atau cuma melihat dari jauh! Kenali dulu orang itu, baru menilai! Bak pitua urang minang, “KOK NDAK TAU JO GADANG OMBAK CALIEK KAPANTAINYO, KOK NDAK TAU JO GADANG KAYU CALIK KA PANGKANYO” Kehidupan mengajarkan aku untuk bersikap bisa menerima kenyataan pengalaman mengajarkan aku akan arti kejujuran kebenaran tak akan penah terkalahkan oleh satu apapun karna saat kejujuran itu berkata maka kebenaran akan mengungkapkan semuanya salah bagi mereka yang menyalahkan kan arti kejujuran .. salah bagi mereka yang tak memperdulikan kebenaransalah untuk mereka yang menutup mata telinga hati dan pikiran untuk mengetahui kenyataan kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup ini butuh perjuangan. Dalam hidup ini perlu pengorbanan. Dan dalam hidup ini aku harus melakukan hal yang benar meskipun berbahaya!!! CINTA KEBAHAGIAAN KASIH SAYANG PERSAHABATAN TUMBUHNYA DARI HATI YANG TULUS. Aku akan mencintai orang yang mencitaiku dan akan menjaga mereka dengan sepenuh hati tidak akan menyakitinya dan lukai hatinya karna cinta semua akan terasa indah cuman GW yang bisa ngedapetin hatinya Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menytakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya. “Untuk melakukan suatu perubahan bukanlah tugas yg mudah. Kadang kita dihina, dicaci, diremehkan & bahkan difitnah. Kita harus berterimakasih kepada mereka untuk menunjukkan & membuktikan bahwa kita bisa. semua tantangan itu akan dapat teratasi.” Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting mau kemana kita akan melangkah. Tentukan tujuan dari sekarang, cintai prosesnya dan mimpikan hasil terbaiknya! Berapa besar kepercayaan orang, ditentukan oleh seberapa besar kejujuran dan kredibilitas kita. Bangun kredebilitas dan tetaplah mengutamakan kebenaran hakiki yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak peduli dengan latar belakang keluarga, yang penting kita mau melakukan sesuatu dan kita berada di jalur yang tepat dan mau tumbuh juga berkembang. Orang tua kita siapa itu tidak penting, terpenting kita mau jadi anak yang bagaimana. Tidak peduli masa lalu, yang penting hari ini, esok dan seterusnya. Tak perlu pikirkan buruknya masa lalu, hinannya kita di masa lalu, yang penting kita mau memikirkan dan berubah mulai sekarang untuk hari esok. Tidak peduli siapa diri kita di mata orang lain, yang penting kita mau melihat orang lain dari sisi terbaiknya dan mau melihat diri kita dari sisi terbaik dan terburuknya. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki. Sukses bukan berarti serba bisa! Buah yang akan kita petik, ditentukan dari bagaimana kita menanamnya. Lakukan yang terbaik dan tetaplah konsiten. Bagaimana sekarang kita berproses, maka inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya. Tuhan tidak pernah tidur, kuasanya tahu mana hamba-hambanya yang mau melakukan sesuatu dan bekerja keras, berdo’a dan meyakini bahwa tuhan akan ikut campur tangan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita. Tetaplah optimis dan lakukanlah yang terbaik. Seberapa besar mimpi kita itu tidak penting, yang penting seberapa besar sesuatu yang kita kerjakan dan seberapa tepat kita melakukannya. Timing! “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan INI BAPAK SAYA. Tapi pemuda adalah seorang yang mengatakan INILAH SAYA”
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Minangkabau. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s