Kajian Historiografis Rajo Tigo Selo


Oleh : Gusti Anan , Sejarawan Unand

Padek , Jumat – 27 Desember 2013

Walau kajian lama di Group ko tapi tetap menarik , tapi saya kurang setuju dengan tulisan ini . 

Penegasan mengenai keberadaan dan lo­kasi tempat bersemayamnya Rajo Tigo Selo (Rajo Alam di Pagaru­yung, Rajo Ibadat di Buo, dan Rajo Ibadat di Sum­pua­­kuduih) ramai diung­kap­kan sejak tahun 1970-an. Ini dila­kukan oleh pe­nulis Urang Awak dan ber­hubungan dengan program “mam­bangkik ba­tang tarandam” yang dica­nang­kan peme­rintah saat itu.

Pada masa sebe­lum­nya, perbincangan me­ngenai lembaga ini lebih ba­nyak pada tataran ke­be­­ra­­daannya dalam sistem pemerintahan/ politik tradisional Minangkabau. Pengungkapan itu lebih banyak dikemukakan penulis (para pejabat) Belanda, sejak pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20 (Westenenk, Coperus, De Rooy, dan lain-lain).

Kalau demikian bagai­mana keberadaan lembaga Rajo Tigo Selo dan Rajo Iba­dat dalam karya-karya penulis se­jarah yang lebih tua?

Informasi tertua tentang ada­nya tiga raja di Mi­nang­kabau ditemukan dalam buku The Summa Oriental of Tome Pi­res (1944). Karya yang ditu­lis pada tahun 1512-1515 ini me­nyebut adanya tiga raja di Mi­n­angkabau. Lengkapnya Pires menulis “Raja Minang­kabau ada tiga. Raja Diraja dari ketiga raja ini dinamakan Raja Çunci Teras, kedua dina­mai Raja Bandar, saudagar dari raja yang disebut perta­ma, dan ketiga dinamakan Raja Boncu atau Buús”. Selan­jut­nya Pires mengatakan bah­wa “raja yang disebut pertama baru saja menjadi Islam, seki­tar 15 tahun; yang dua lainnya ma­sih penyembah berhala”. Pi­res juga menyebut bahwa ke­tiga raja ini sering be­r­pe­rang antara yang satu de­ngan yang lainnya. Pires mendasari deskripsinya pada informan (saudagar) yang datang ke Malaka. Dalam catatan kaki yang diberikan oleh Armando Cortesao sebagai penerjemah dan editor buku) dikatakan bah­wa daerah di mana ketiga ra­ja tersebut memerintah ada­lah Sungaidareh, Bandar­pitiak, dan Bonjol.

Lokasi kedudukan raja ter­sebut didasarkan kepada po­sisi astronomisnya dan ba­nyaknya kegiatan penamb­angan emas di sana. Cortesao menyebut, Pires melengkapi keterangan dengan me­nyerta­kan posisi astor­nomis ke tiga dae­rah kedudukan raja serta gam­baran bahwa daerah-dae­rah itu sekaligus lumbung emas (1944: 164).

Mengenai baru masuknya Islam ke kawasan Minang­ka­bau, termasuk di kawasan pan­tai (baratnya) juga disebut Pi­res ketika menggambarkan ke­adaan Pariaman dan Tiku.

Pires menulis, Raja Paria­man masih penyembah ber­ha­la, sedangkan Raja Tiku, me­n­­urut sebagian sumber dia adalah seorang penyembah ber­hala, dan sebagian sumber yang lain menyebut dia adalah muslim (1944:160-1).

Mengenai masih “kafir­nya” sebagian besar orang Mi­nang­kabau pada awal abad ke-16 juga dikemukakan Ruy de Britto (yang dikutip oleh Kiels­tra). Britto yang men­da­pat in­formasi dari dari para sau­­da­gar Minangkabau yang da­tang ke Malaka menulis bah­­wa orang Minangkabau ma­sih pe­nyem­bah berhala (1923).

Informasi tentang adanya raja di pedalaman Minang­ka­bau juga diungkapkan oleh Tho­­­mas Dias. Laporan perja­la­nan Dias yang dilaksanakan ta­hun 1684 dan dipopulerkan oleh F. De Haan (1876) serta F.M. Schnitger (1939) ini me­nye­­but tentang adanya raja di Buo.

Gambaran yang disajikan me­ngesankan realitas yang luar biasa. Sambutan yang me­libatkan ribuan orang, is­tana yang wah, pelayanan yang premium class. Islam te­lah menjadi agama anutan, te­tapi posisinya belum begitu is­timewa, bahkan seorang haji (ula­ma) dipandang rendah saja di lingkungan istana. Dias ha­nya menyebut satu raja (Radia Malajo) dalam lapo­ran­nya (1876: 10ff).

Informasi lain tentang Rajo Tigo Selo ditemukan da­lam karya William Marsden. Dalam buku yang dipu­blika­sikan pertama kali tahun 1783 itu Marsden memberikan waktu mulai adanya lembaga ini, yakni sejak 1680, pasca­me­ninggalnya Raja Alif.

Secara lebih tegas Mars­den menyebut bahwa “setelah me­ninggalnya Sultan Alif tan­pa pewaris takhta, pemer­in­tahan terbagi men­jadi tiga pe­mimpin. Ketiganya diasumsi­kan merupakan keluarga ke­rajaan dan pada saat yang sama merupakan para peting­gi negeri yang berkedudukan di daerah-daerah yang ber­na­ma Suruwasa, Paga­ruyong, dan Sungei-trap”.

Sayangnya Marsden tidak me­nyebut nama-nama dari ke­tiga raja itu (1986: 335). Sa­ma dengan Pires, Marsden men­dasari keterangannya pada informasi yang disam­paikan informannya.

Berbeda dengan Pires, Mar­s­den yang memiliki kesa­daran waktu menanyai infor­man­nya dengan kurun waktu munculnya lembaga Rajo Tigo Selo (1680), bahkan dia juga me­ngemukakan kurun waktu mu­lai dikembangkannya Islam di Minangkabau yakni ta­hun 1112 (1986: 344). Na­mun Marsden nampaknya mer­a­gu­kan angka-angka tahun dari proses Islamisasi ini.

Sejak awal abad ke-19, in­formasi mengenai lembaga Ra­jo Tigo Selo (apalagi Rajo Iba­dat) mulai menghilang dari penulis pengelana (saksi ma­ta). Keterangan yang ba­nyak tampil hanyalah tentang Raja Minangkabau atau Raja Pa­garuyung saja. Hal ini terli­hat dari informasi yang di­sam­paikan oleh Raffles da­lam laporan perjalanannya ke pedalamanan Minangkabau tahun 1818. Dalam buku yang diberi judul Memoirs of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles di­sebut tentang adanya sese­orang yang dinamakan Tuan Gadis, yang disebut Raffles sebagai seseorang dipercayai memerintah negeri (Raffles ti­dak menyebutnya Raja, bah­kan nampaknya Raflles juga agak ragu menyebut tempat­nya tinggal, sebuah rumah kayu yang panjang + 30 kaki, sebagai istana) (1830: 358).

Sebaliknya, Raffles bebe­ra­pa kali menyebut adanya is­tana Raja Pagaruyung, ista­na raja yang dibakar (sam­pai tiga kali) oleh para fanatik, dan Raffles bahkan mengisahkan ten­tang larinya seorang Pa­nge­­ran Pagaruyung karena ti­dak mampu menghadapi gem­­puran para fanatik (1830: 360). Keberadaan dua raja lain­nya (Raja Adat dan Raja Iba­dat) tidak disebut.

Informasi berikutnya ten­tang Raja Minangkabau ter­lihat dalam tulisan Na­huijs. Ko­lonel AD Belanda ini me­nye­­but­kan bahwa Raja Mi­nang­kabau (Alam Baga­gar­syah) dipandang sebagai orang biasa saja oleh masyar­a­kat­nya. Tidak seperti di Jawa, ti­dak ada penghormatan isti­me­wa padanya. Tidak itu saja, da­lam tulisan yang dibuatnya ber­dasarkan pengalamannya sendiri Nahuijs menulis “…sa­ya melihat bahwa orang-orang pribumi, yang sangat rendah sekaligus, semuanya hilir mudik dekat sekali dari Raja Minangkabau itu. Tanpa memperlihatkan sikap hor­mat sama sekali”, atau “….ka­mi pernah berkunjung pada suatu nagari di tepi danau yang cukup banyak pendu­duk­nya. Di sana kami dite­rima oleh kepala-kepala kam­pung yang acuh tak acuh saja. Me­reka mengenali rajanya pun tidak…” (Nahuijs 1827: 143ff).

Walaupun mengunjungi Sa­ruaso, Nahuijs tidak meye­but adanya “raja” di daerah ini (1827: 156-7). Nahuijs juga tidak menyebutkan tentang adanya raja yang lain.

Raja Pagaruyung memang ban­yak disebut pada sumber-sum­­ber masa awal masuknya Be­­landa ke pedalaman Mi­nang­­­kabau (Tanahdatar). Raja Minangkabau inilah yang mengundang Belanda ma­suk ke Tanahdatar. Seba­gai imbalan dari jasa sang raja Belanda menganugerahinya jabatan sebagai Hoofdregent van Minangkabau dan seka­ligus Regent van Tanah­da­tar. Seiring dengan itu, Belan­da juga memberinya gelar Raja Alam Minangkabau. Pem­­berian gelar ini dituang­kan dalam Provisioneel Reg­lem­ent op het Binnen­landsch Besstur en dat der Financien in de Residentie Padang en On­der­hoorigheden yang di­un­­dangkan pada tanggal 4 November 1823. Jadi gelar Raja Alam tersebut sesung­guh­nya adalah gelar pembe­rian kolonialis Belanda pada Alam Bagagar Syah, bukan gelar bawaan dari sononya.

Merujuk kepada adanya gelar hadiah (Rajo Alam) dari kolonialis Belanda kepada Alam Bagagarsyah, bisa pula kita bertanya, jangan-jangan gelar Raja Adat dan Raja Iba­dat ini adalah juga gelar-gelar hadiah yang diberikan oleh kolonialis Belanda terhadap so­sok-sosok yang men­du­kung­nya pada saat mereka me­lakukan ekspansi politik, eks­ploitasi ekonomi, dan pe­ne­trasi budaya di Minang­kabau pada abad ke-19?

Sebab, seperti yang dis­e­bu­t pada bagian sebe­lumnya, ge­lar-gelar ini dan lokasi ke­beradaan mereka baru mulai ramai diperbincangan pada masa kekuasaan kolonialis Belanda oleh penulis (pejabat) Belanda!

Tentang YHOHANNES NEOLDY, ST

Seberapa besar kita mengenal diri kita sendiri, tentunya hanya kita yang tau. Kita bisa berbicara A didepan orang mengenai diri kita. tapi bisakah kita mengatkan B pada Hati kita. tentunya tidak sejujurnya kita tidak dapat membohongi hati kita. kita suka terhadap sesuatu tapi dengan berbagai pertimbnagan kita malas mengungkapakan hal tersebut….kenapa dan mengapa??? tentunya hanya kita yang tahu. apakah sebegitu memalukannya hal yang kita inginkan sehingga kita tidak berani dan enggan mengungkapkannya. …saiYah… kLo suRuh descrIbe aBouT mY seLf.. gw seNdiri biNguNg.. seTiaP haRi aDa yG beRubaH.. eNTah yG baIk ataU yaNg buRux.. yG pasti gw bUkaN oRang yaNg meNgikuTi aRus.. BiaR kaN meReka di LUaR saNa beRmaiN deNgan maiNaNnya.. aKu deNgaN maiNaN ku seNdiri.. Gw kadaNg gILa kaDang meLankoLis kadaNg juga sTatis.. haNya terKadaNg hiduP ku teRLalu draMatis tuK ku ceRitaKan.. aKu oRang aNeH yG taK peRnah teRteBak oLeh Ku sendirI keMaNa jaLan yG ku tUju..HaL baRu.. aKu peMbuRu haL baRu.. di dUNia iNi banYak haL yg beLum ku keNaL.. MuNgkiN akaN ku haBis kaN hiduP ku uNTuK iTu daN bersEraH diRi seUtuHnya pada-Nya.. peTuaLaNg.. iTu meMaNg! oRaNg yG maLang.. Ku rasa aKu iNgiN puLaNg.. ke JaLan iTu.. BUkaN meLayaNg” spRti saaT ini.. aKu aneH.. peNuh deNgan diLemaTis.. taPi aKu taU siaPa aKu.. aH ribeT.. neoldy… neoldy… saMa saJa.. sILahkaN kaLIan yG meNiLai.. sUdaH banyaK Kok yaNg meniLai.. tesTi Ku saJa yG kaLIan baca tUk mengeNaL ku.. yG kadaNg giLa kadaNg aneH.. RibeTtttttttttt!!!!!!! PokoknYa yg pEngen taU gMn gW oR6nYa cobaLah utK l3bih deKaT..deKaT..DeKaT..Dekat..terUs..Terus..TerUs bElUm DeKat.. TRus dah ah BaHaYa terLaLu dEkaT……………….”WARNING” Lagi….. Saya lebih suka memulai dari bawah dan mendaki kepuncak dari pada memulai dari puncak dan harus tetap bertahan disana. Berbagai bunga serta kerikil dalam kehidupan ini telah sering aku rasakan, baik itu dalam bentuk cemoohan, cacian, sanjungan, sindiran, pujian, bahkan ada pula dukungan serta tekanan yang membuatku semakin hidup ini menjadi lebih bisa aku maknai. Tapi semua itu hanya pandangan orang dari luar saja, hati ini tak ada yang tau aku merasakan apa saat ini, sakitkah aku, pedihkan aku, teririskah aku atau senangkah aku, bahagiakan aku, ceriakah aku itu semua hanya hatiku yang membawa kemana aku harus melangkah mencari jalan yang benar2 lurus tanpa duri2. Meski kesedihan terus menggantung pada kelopak mata ini berusaha menarik terus dengan kuat air mataku untuk keluar dan terkadang tangisan itu tak bisa ku bendung sampai tersedu-sedu. Aku berjuang dengan tangnku sendiri hanya mama dan nenek ku yang perhatian untukku. Menghormati diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengendalikan diri sendiri. Tiga ini saja mengarahkan hidup pada kekuatan yang berddaulat. Ingatlah kebaikan seseorang pada kita Lupakan kesalahan seseorang pada kita Ingatlah kesalahan kita pada orang lain dan Lupakan kebaikan kita pada orang lain jangan berdusta bila tak ingin didustai… Ketika Seseorang melukai hatimu, tulislah diatas pasir agar terhapus angin. Bila kebaikan yang terjadi, pahatlah di atas batu agar tidak terhapus oleh angin. Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri. Kemandirian untuk mengisi waktu muda dengan hal-hal positif dan tidak takut akan adanya perbedaan. Serta kemandirian untuk selalu melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari penyelesaian permasalahan, tanpa berharap adanya kesempatan dari orang lain. “Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang … apalagi baru bertemu atau cuma melihat dari jauh! Kenali dulu orang itu, baru menilai! Bak pitua urang minang, “KOK NDAK TAU JO GADANG OMBAK CALIEK KAPANTAINYO, KOK NDAK TAU JO GADANG KAYU CALIK KA PANGKANYO” Kehidupan mengajarkan aku untuk bersikap bisa menerima kenyataan pengalaman mengajarkan aku akan arti kejujuran kebenaran tak akan penah terkalahkan oleh satu apapun karna saat kejujuran itu berkata maka kebenaran akan mengungkapkan semuanya salah bagi mereka yang menyalahkan kan arti kejujuran .. salah bagi mereka yang tak memperdulikan kebenaransalah untuk mereka yang menutup mata telinga hati dan pikiran untuk mengetahui kenyataan kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup ini butuh perjuangan. Dalam hidup ini perlu pengorbanan. Dan dalam hidup ini aku harus melakukan hal yang benar meskipun berbahaya!!! CINTA KEBAHAGIAAN KASIH SAYANG PERSAHABATAN TUMBUHNYA DARI HATI YANG TULUS. Aku akan mencintai orang yang mencitaiku dan akan menjaga mereka dengan sepenuh hati tidak akan menyakitinya dan lukai hatinya karna cinta semua akan terasa indah cuman GW yang bisa ngedapetin hatinya Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menytakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya. “Untuk melakukan suatu perubahan bukanlah tugas yg mudah. Kadang kita dihina, dicaci, diremehkan & bahkan difitnah. Kita harus berterimakasih kepada mereka untuk menunjukkan & membuktikan bahwa kita bisa. semua tantangan itu akan dapat teratasi.” Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting mau kemana kita akan melangkah. Tentukan tujuan dari sekarang, cintai prosesnya dan mimpikan hasil terbaiknya! Berapa besar kepercayaan orang, ditentukan oleh seberapa besar kejujuran dan kredibilitas kita. Bangun kredebilitas dan tetaplah mengutamakan kebenaran hakiki yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak peduli dengan latar belakang keluarga, yang penting kita mau melakukan sesuatu dan kita berada di jalur yang tepat dan mau tumbuh juga berkembang. Orang tua kita siapa itu tidak penting, terpenting kita mau jadi anak yang bagaimana. Tidak peduli masa lalu, yang penting hari ini, esok dan seterusnya. Tak perlu pikirkan buruknya masa lalu, hinannya kita di masa lalu, yang penting kita mau memikirkan dan berubah mulai sekarang untuk hari esok. Tidak peduli siapa diri kita di mata orang lain, yang penting kita mau melihat orang lain dari sisi terbaiknya dan mau melihat diri kita dari sisi terbaik dan terburuknya. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki. Sukses bukan berarti serba bisa! Buah yang akan kita petik, ditentukan dari bagaimana kita menanamnya. Lakukan yang terbaik dan tetaplah konsiten. Bagaimana sekarang kita berproses, maka inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya. Tuhan tidak pernah tidur, kuasanya tahu mana hamba-hambanya yang mau melakukan sesuatu dan bekerja keras, berdo’a dan meyakini bahwa tuhan akan ikut campur tangan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita. Tetaplah optimis dan lakukanlah yang terbaik. Seberapa besar mimpi kita itu tidak penting, yang penting seberapa besar sesuatu yang kita kerjakan dan seberapa tepat kita melakukannya. Timing! “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan INI BAPAK SAYA. Tapi pemuda adalah seorang yang mengatakan INILAH SAYA”
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s