Melayu, Suwarnabhumi Pulau Ameh, Pulau Paco


Emral Djamal Dt. Rajo Mudo 

  1. Sri Maharaja Suryanarayana Mauliwarmadewa (1101 – 1150 M)

 Seorang Pendekar dari Melayu Suwarnabhumi

Pendiri wangsa Malayu di Suwarnabhumi pada abad ke 12 M sebagai pengganti wangsa Sailendra sehabis dominasi Cola atas Suwarnabhumi. Ia juga mengakhiri dominasi Cola di Suwarnabhumi. 

  Seorang pendekar dari Malayu mengalahkan raja Manabrahma dari Srilangka. Pendekar itu disebutkan bernama Suryanarayana, yang kemu dian dinobatkan sebagai Maharaja di Suwarnapura karena jasa dan keberha silannya menundukkan kerajaan Cola. Sehingga untuk selanjutnya Cola tenggelam selama-lamanya. Suwarnapura adalah ibu kota kerajaan Suwar nabhumi, yang di dalam tambo dibaca Sirenopuro, yang artinya Kota Emas.

Peristiwa tersebut tercatat dalam sebuah prasasti Srilangka yang di umumkan oleh Prof. Saranath Paranavitana pada tahun 1966, dalam tulisan nya “Ceilon and Sriwijaya, essays offered to G.E. Luce, Artibus Asiae I, 1996”. Kemudian ia menundukkan Kerajaan Cola di pantai timur India Selatan. Slamet Mulyana, 221).

Penemuan prasasti Suwarnabhumi di Srilangka merupakan bukti nya ta, bahwa yang menundukkan Cola adalah pendekar-pendekar Melayu Su warnabhumi yang terorganisir rapi dan tangguh sebagai sebuah kekuatan yang mampu menaklukkan kerajaan lain sampai ke seberang lautan.

Dan demikian pula dapat dipahami bahwa para pendekar-pendekar nya berasal dari sebuah kerajaan, yang kuat dan berdaulat di wilayah tem patannya, yakni di pedalaman Sumatera. Dibawah pimpinan raja-raja Mela yu, Suwarnabhumi mengalami kemajuan pesat. Dalam dunia internasional Chou Ku Fei berkata tentang Suwarnabhumi, bahwa:

“ Mahkotanya dibuat dari emas, berhias dengan ratusan mutu manikam. Mahkota itu sangat berat, hanya dikenakan pada upa cara besar. Karena beratnya tiada terangkat oleh siapapun kecu ali oleh sang prabu.Jika tahta itu kosong, maka putra-putra sang prabu dikumpulkan. Barang siapa diantara mereka itu yang da pat mengangkat mahkota itu, ia berhak untuk naik tahta meng gantikan sang prabu yang sudah mangkat.”(dalam Mulyana, 226)

Para ahli sejarah selama ini kurang menyentuh peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di pedalaman Sumatera, sehingga rahasia keberadaan kerajaan-kerajaan yang disebut Kan-to–li,  Sriwijaya, Darmasyraya, dan Suwarnabhumi dan lain-lainnya menjadi kurang terungkapkan. Barangkali karena tidak adanya prasasti-prasasti yang dapat dijadikan bukti.

Kecuali kemudian, sejarah mencatat keberadaan Adityawarman di Minangkabau Pagaruyung, karena ditemukannya arca besar Amoghapaca di Padang Roco, bertarikh 1347 M. Prasasti Adityawarman itu ditemukan di daerah Dharmasyraya di hulu sungai Batang Hari. Dharmasyraya, adalah daerah atau kerajaan wangsa Malayupura setelah dominasi wangsa Sai lendra dan Cola.

Wangsa Malayupura mulai lagi memegang peranan penting pada awal abad ke 12 M dengan munculnya Sri Maharaja Suryanarayana sebagai penguasa baru di Suwarnabhumi. Pernyataan Prof. Saranath Paranavitana di atas, tentang Pangeran Suryanarayana termasuk wangsa Malayupura menarik perhatian para sejarawan, khususnya Prof. Dr. Slamet Mulyana dalam bukunya berjudul “Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnabhumi”, karena Malayupura mempunyai hubungan dengan Suwarnabhumi.

Yang menarik adalah pernyataan Slamet Mulyana, berkenaan dengan Suryanarayana tersebut, antara lain disebutkan :

“Semua raja dari wangsa Malayapura dari permulaan abad kedua belas sampai runtuhnya Suwarnabhumi pada akhir abad keempat belas, menyandang nama Mauli (warmadewa) di belakang nama pribadinya. Pernyataan Mauliwarmadewa itu merupakan ciri khu sus bagi wangsa Malayapura, sama halnya dengan “Hiasan Wang sa Sailendra” bagi anggota wangsa Sailendra. Tidak dapat di mungkiri bahwa toponim Malaya itu mempunyai hubungan erat dengan toponim Malayu. Secara etimologis Malaya dan Malayu memang sama.”

Pada bagian lain dari bukunya itu, Slamet Mulayana menyatakan :

“Oleh karena Pangeran Suryanarayana juga termasuk wangsa Malayu (Malayapura), boleh dipastikan bahwa ia pun menyan dang gelar Mauliwarmadewa. Ia pendiri wangsa Melayu di Kerajaan Suwarnabhumi dalam abad kedua belas. Ia juga meng akhiri dominasi Cola di Suwarnabhumi.”

Bahwa Pangeran Suryanarayana pernah menjadi Raja Suwarnabhu mi dinyatakan dengan jelas pada prasasti Srilangka yang mengatakan bah wa Suryanarayana dari wangsa Malayupura dinobatkan  sebagai Maharaja di Suwarnapura. Boleh dipastikan bahwa yang dimaksud dengan Suwarna pura ialah Kerajaan Suwarnabhumi-Suwarnadwipa di Sumatera. Tetapi sangat disayangkan para ahli sejarah tidak pernah mengungkapkan, ber dasarkan catatan sejarah atau ceritera-ceritera dari dalam negeri sendiri.

Seperti misalnya yang terdapat dalam kisah tambo-tambo lokal di nagari nagari bersangkutan, atau yang telah menjadi ceritera warisan tradisi secara turun temurun, di daerahnya. Walaupun ceritera tersebut telah meng alami pergeseran jalannya ceritera sejarah, namun kalau dipilah secara hati-hati tentu akan dapat membuka tabir sejarahnya lebih jauh. Setidak-tidak nya beberapa informasi akan menambah koleksi data-data untuk mere konstruksi kembali jalannya ceritera sejarah.

Pelukisan suatu zaman tidaklah selalu harus bersumber dari prasasti-prasasti yang bertuliskan huruf-huruf kuno, tetapi bisa saja lewat ceritera-ceritera rakyat biasa. Walaupun dilihat dari fakta-fakta dan bukti-bukti sejarah berdasarkan prasasti tempatan di daerah itu sendiri memang dirasa kan kekurangannya, namun itu tidak berarti menenggelamkan sejarah begi tu saja. Di daerah pedalaman yang menjadi pusat pulau Sumatera, Su warnabhumi, Dharmasyraya, Suwarnapura, sampai kepada Minangkabau Pagaruyung, banyak sekali curai paparan tentang sejarah yang disampaikan dengan bahasa tutur dalam lingkungan yang akrab atau lingkungan adat secara turun temurun di nagari-nagarinya masing-masing, yang jauh dari jangkauan para ahli.

Seorang pemimpin negeri, atau tuo-tuo nagari dalam wilayah adat menurut tradisinya masing-masing pada zamannya, tidak ada yang tidak mengetahui sejarah asal-muasal negerinya secara turun temurun. Demikian pula di Minangkabau, seorang yang diangkat jadi Datuk atau Penghulu secara adat, adalah wajib baginya untuk mempelajari dan memahami seluk beluk adat dan sejarah kaum, keluarga, suku, dan negerinya sendiri.

Bahkan seorang anak kemenakan di Minangkabau secara adat, ada lah harus baginya untuk mempelajari silsilah, sejarah, adat dan agama yang hidup dan berkembang di lingkungan negerinya sendiri, untuk tidak terje bak kepada kemungkinan datangnya berbagai pengaruh dari luar yang da pat menggerogoti ketentraman negerinya sendiri. Namun sekarang, seba gian besar kenyataan itu hanya bisa disampaikan dengan sebuah ungkapan tradisi :  “alah limau dek benalu”. Atau yang lebih populer ungkapannya adalah : “sukek dianjak urang panggaleh, pasupadan dialieh urang lalu”.

Begitupun dalam segi analisa sejarah dan kebudayaan Minangkabau sendiri, banyak yang tidak berminat untuk terjun menukik pada kedalamam peristiwa sejarah masa lalu dalam negerinya sendiri. Banyak para ahli seja rah di daerah ini asik untuk mengulang-ulang penafsiran berbagai huruf-huruf kuno dalam prasasti-prasasati yang ditemui di daerah  Sumatera ini, dan mendewakannya sebagai satu-satunya sumber sejarah yang utama, kare na tertulis di batu katanya. Tetapi sebaliknya tidak mampu melihat atau sengaja tidak melihat tentang kenyataan-kenyataan yang tersurat, tersirat, dan tersuruk dalam kehidupan masyarakat tradisi sejak berabad-abad yang lalu. Seperti misalnya prasasti-prasasti batu sebagai sebuah peninggalan budaya, tidak lagi menjadi monumen sejarah yang penting di Alam Miangkabau, karena monumen itu telah beralih dan tercatat sebagai nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakatnya sendiri. Terjaga dan terpelihara secara baik, sebagai: “Kato nan Ditarimo, Warih Sako Nan Ditolong, Pusako Nan Dijawek.” Tetapi sangat disayangkan para ahli sejarah dan kebudayaan di negeri ini, sangat suka untuk “ melihat  tumo di seberang laut” sehingga “tidak menampak gajah di pelupuk mata”.

Pada masa antara tahun 1068 – 1101 M, terkecuali pedalaman Sumatera bagian tengah, maka Suwarnabhumi dikuasai oleh tentara Cola, yang dalam Kaba disebut Tandun Sori, sementara oleh orang Minangkabau masa itu disebut sebagai “orang keling”  atau urang kaliang. Kendatipun sebetulnya Keling atau Kalingga adalah daerah taklukan dari Cola. Namun disebut Keling, karena orang Cola adalah juga dari keturunan bangsa Dravida. Sementara yang datang pertama kali dari kelompok bangsa Dra vida ini ke Indonesia adalah orang Keling.

Sehingga semua yang termasuk kelompok bangsa Dravida bagi orang Indonesia disebut orang Keling. Khusus lidah orang Minangkabau menyebutnya Kaliang. Bahkan pada pengusirannya disebut dengan julukan kaliang-gaca, yang ditujukan kepa da tentara Colamandala yang lari terbirit-birit akibat serangan  pasukan  Sur yanarayana.

Pangeran Suryanarayana, yang secara tradisi lebih dikenal sebagai Datuk Ampanglimo Sinaro,  seorang pendekar, pemimpin perjuangan pen duduk pedalaman di  daerah sebelah barat Sumatera bagian tengah, meng halau tentara Tandun Sori yang memasuki pedalaman. Pasukan Tandun Sori terkepung dan tertangkap di kampung Sungai Nyalo, yang se karang berada dalam wilayah nagari Guguk, Kubung Tigo Baleh.  (Menurut cerita dalam Kaba Jambak Jambu Lilin).

Untuk selanjutnya Datuk Ampang Limo Sinaro Suryanarayana ber sama hulubalang-hulubalang pendekar nagari  memburu pasukan Tandun Sori di sehiliran sungai Batang Hari, lalu membuat kubu pertahanan pada suatu tempat yang kemudian dikenal dengan nama Si Guntur dekat Pulau Punjung. Ampanglimo Sinaro bersama-sama penduduk negeri yang meng ikutinya kemudian membuka perkampungan di sekitar Si Guntur tersebut, dan khusus sebagai tempat markas Ampanglimo Sinaro dengan pasukan intinya dibuat sebuah perkampungan pula yang dinamakan sebagai Kam pung Dalam.

Karena Datuk Ampanglimo Sinaro berasal dari wangsa Melayu Tepi Air, kemudian kampung tersebut dinamakan Melayu Kampung Dalam. Sementara di dalam sejarah dikenal sebagai Wangsa Melayupura.

“Itulah Sri Maharajo Dirajo, Rajo Gagah Gegap Gampito. Nan berlayar ke laut Langkopuri, mambao Mangkuto Sangga Bu wano, ameh kalodan sajatinyo. Jatuah ka lawik  Baharullah”

Pangeran Suryanarayana Datuk Ampanglimo Sinaro, sebagai se orang panglima pendekar negeri yang mampu mengusir tentara Cola dari Suwarnabhumi, bahkan sampai memburunya dan menundukkan negeri asal tentara Cola itu sendiri, menjadikan namanya harum, disanjung dan dipuji rakyatnya sebagai seorang panglima pendekar penyelamat negeri. Diangkat oleh rakyatnya sebagai Raja Wangsa Melayu dengan gelar Tuanku Bagindo Ratu Raja Dauli Baromandeo, yang berkedudukan di Melayu Kampung Dalam Si Guntur dekat Pulau Punjung – Provinsi Sumatera Barat sekarang, yang dalam sejarah disebut Melayupura.

Datuk Ampanglimo Sinaro, atau juga disebut Datuk Sinaro, Suri Naro, Sri Nara, di dalam prasasti Srilangka menyebut dirinya dengan jelas “Suryanarayana” menjadi Maharaja Suwarnabhumi di Melayu Kampung Dalam dengan nama kebesarannya Kamraten An Sri Maharaja Suryana rayana Mauliwarmadewa, dan dalam tradisi pedalaman disebut Tuanku Bagindo Ratu Sri Maharajo Suri Naro Dauli Baromandeo (Tuanku Bagin da Ratu Sri Nara Mauli Warmandewa)  Beliau kelak digantikan oleh putra beliau yang juga bergelar Tuanku Bagindo Ratu.

Dok Salimbado Buah Tarok – Sudah terbit di Singgalang Minggu beberapa tahun yll.

Tentang YHOHANNES NEOLDY, ST

Seberapa besar kita mengenal diri kita sendiri, tentunya hanya kita yang tau. Kita bisa berbicara A didepan orang mengenai diri kita. tapi bisakah kita mengatkan B pada Hati kita. tentunya tidak sejujurnya kita tidak dapat membohongi hati kita. kita suka terhadap sesuatu tapi dengan berbagai pertimbnagan kita malas mengungkapakan hal tersebut….kenapa dan mengapa??? tentunya hanya kita yang tahu. apakah sebegitu memalukannya hal yang kita inginkan sehingga kita tidak berani dan enggan mengungkapkannya. …saiYah… kLo suRuh descrIbe aBouT mY seLf.. gw seNdiri biNguNg.. seTiaP haRi aDa yG beRubaH.. eNTah yG baIk ataU yaNg buRux.. yG pasti gw bUkaN oRang yaNg meNgikuTi aRus.. BiaR kaN meReka di LUaR saNa beRmaiN deNgan maiNaNnya.. aKu deNgaN maiNaN ku seNdiri.. Gw kadaNg gILa kaDang meLankoLis kadaNg juga sTatis.. haNya terKadaNg hiduP ku teRLalu draMatis tuK ku ceRitaKan.. aKu oRang aNeH yG taK peRnah teRteBak oLeh Ku sendirI keMaNa jaLan yG ku tUju..HaL baRu.. aKu peMbuRu haL baRu.. di dUNia iNi banYak haL yg beLum ku keNaL.. MuNgkiN akaN ku haBis kaN hiduP ku uNTuK iTu daN bersEraH diRi seUtuHnya pada-Nya.. peTuaLaNg.. iTu meMaNg! oRaNg yG maLang.. Ku rasa aKu iNgiN puLaNg.. ke JaLan iTu.. BUkaN meLayaNg” spRti saaT ini.. aKu aneH.. peNuh deNgan diLemaTis.. taPi aKu taU siaPa aKu.. aH ribeT.. neoldy… neoldy… saMa saJa.. sILahkaN kaLIan yG meNiLai.. sUdaH banyaK Kok yaNg meniLai.. tesTi Ku saJa yG kaLIan baca tUk mengeNaL ku.. yG kadaNg giLa kadaNg aneH.. RibeTtttttttttt!!!!!!! PokoknYa yg pEngen taU gMn gW oR6nYa cobaLah utK l3bih deKaT..deKaT..DeKaT..Dekat..terUs..Terus..TerUs bElUm DeKat.. TRus dah ah BaHaYa terLaLu dEkaT……………….”WARNING” Lagi….. Saya lebih suka memulai dari bawah dan mendaki kepuncak dari pada memulai dari puncak dan harus tetap bertahan disana. Berbagai bunga serta kerikil dalam kehidupan ini telah sering aku rasakan, baik itu dalam bentuk cemoohan, cacian, sanjungan, sindiran, pujian, bahkan ada pula dukungan serta tekanan yang membuatku semakin hidup ini menjadi lebih bisa aku maknai. Tapi semua itu hanya pandangan orang dari luar saja, hati ini tak ada yang tau aku merasakan apa saat ini, sakitkah aku, pedihkan aku, teririskah aku atau senangkah aku, bahagiakan aku, ceriakah aku itu semua hanya hatiku yang membawa kemana aku harus melangkah mencari jalan yang benar2 lurus tanpa duri2. Meski kesedihan terus menggantung pada kelopak mata ini berusaha menarik terus dengan kuat air mataku untuk keluar dan terkadang tangisan itu tak bisa ku bendung sampai tersedu-sedu. Aku berjuang dengan tangnku sendiri hanya mama dan nenek ku yang perhatian untukku. Menghormati diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengendalikan diri sendiri. Tiga ini saja mengarahkan hidup pada kekuatan yang berddaulat. Ingatlah kebaikan seseorang pada kita Lupakan kesalahan seseorang pada kita Ingatlah kesalahan kita pada orang lain dan Lupakan kebaikan kita pada orang lain jangan berdusta bila tak ingin didustai… Ketika Seseorang melukai hatimu, tulislah diatas pasir agar terhapus angin. Bila kebaikan yang terjadi, pahatlah di atas batu agar tidak terhapus oleh angin. Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri. Kemandirian untuk mengisi waktu muda dengan hal-hal positif dan tidak takut akan adanya perbedaan. Serta kemandirian untuk selalu melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari penyelesaian permasalahan, tanpa berharap adanya kesempatan dari orang lain. “Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang … apalagi baru bertemu atau cuma melihat dari jauh! Kenali dulu orang itu, baru menilai! Bak pitua urang minang, “KOK NDAK TAU JO GADANG OMBAK CALIEK KAPANTAINYO, KOK NDAK TAU JO GADANG KAYU CALIK KA PANGKANYO” Kehidupan mengajarkan aku untuk bersikap bisa menerima kenyataan pengalaman mengajarkan aku akan arti kejujuran kebenaran tak akan penah terkalahkan oleh satu apapun karna saat kejujuran itu berkata maka kebenaran akan mengungkapkan semuanya salah bagi mereka yang menyalahkan kan arti kejujuran .. salah bagi mereka yang tak memperdulikan kebenaransalah untuk mereka yang menutup mata telinga hati dan pikiran untuk mengetahui kenyataan kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup ini butuh perjuangan. Dalam hidup ini perlu pengorbanan. Dan dalam hidup ini aku harus melakukan hal yang benar meskipun berbahaya!!! CINTA KEBAHAGIAAN KASIH SAYANG PERSAHABATAN TUMBUHNYA DARI HATI YANG TULUS. Aku akan mencintai orang yang mencitaiku dan akan menjaga mereka dengan sepenuh hati tidak akan menyakitinya dan lukai hatinya karna cinta semua akan terasa indah cuman GW yang bisa ngedapetin hatinya Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menytakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya. “Untuk melakukan suatu perubahan bukanlah tugas yg mudah. Kadang kita dihina, dicaci, diremehkan & bahkan difitnah. Kita harus berterimakasih kepada mereka untuk menunjukkan & membuktikan bahwa kita bisa. semua tantangan itu akan dapat teratasi.” Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting mau kemana kita akan melangkah. Tentukan tujuan dari sekarang, cintai prosesnya dan mimpikan hasil terbaiknya! Berapa besar kepercayaan orang, ditentukan oleh seberapa besar kejujuran dan kredibilitas kita. Bangun kredebilitas dan tetaplah mengutamakan kebenaran hakiki yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak peduli dengan latar belakang keluarga, yang penting kita mau melakukan sesuatu dan kita berada di jalur yang tepat dan mau tumbuh juga berkembang. Orang tua kita siapa itu tidak penting, terpenting kita mau jadi anak yang bagaimana. Tidak peduli masa lalu, yang penting hari ini, esok dan seterusnya. Tak perlu pikirkan buruknya masa lalu, hinannya kita di masa lalu, yang penting kita mau memikirkan dan berubah mulai sekarang untuk hari esok. Tidak peduli siapa diri kita di mata orang lain, yang penting kita mau melihat orang lain dari sisi terbaiknya dan mau melihat diri kita dari sisi terbaik dan terburuknya. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki. Sukses bukan berarti serba bisa! Buah yang akan kita petik, ditentukan dari bagaimana kita menanamnya. Lakukan yang terbaik dan tetaplah konsiten. Bagaimana sekarang kita berproses, maka inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya. Tuhan tidak pernah tidur, kuasanya tahu mana hamba-hambanya yang mau melakukan sesuatu dan bekerja keras, berdo’a dan meyakini bahwa tuhan akan ikut campur tangan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita. Tetaplah optimis dan lakukanlah yang terbaik. Seberapa besar mimpi kita itu tidak penting, yang penting seberapa besar sesuatu yang kita kerjakan dan seberapa tepat kita melakukannya. Timing! “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan INI BAPAK SAYA. Tapi pemuda adalah seorang yang mengatakan INILAH SAYA”
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Minangkabau. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s