ISKANDAR DZULKARNAIN


ISKANDAR DZULKARNAIN

Oleh : Emral Djamal Dt. Rajo Mudo

1. Titisan Iskandar Dzulkarnain

Pengamat teks sejarah berbahasa Melayu, Khalid Taib dalam karya disertasinya menyimpulkan bahwa penciptaan teks-teks sastra sejarah melibatkan tradisi Iskandar secara fungsional. Keterlibatan tokoh Iskandar berfungsi menyajikan kebesaran raja-raja yang ditarik dari garis keturunan. Iskandar Dzulkarkanain sena

ntiasa diungkapkan dalam garis keturunan raja-raja Melayu.

Dalam pengantar buku Hikayat Iskandar Zulkarnain, terbitan Balai Pustaka, Siti Chamamah Soeratno mengemukakan bahwa Iskandar Dzulkar nain adalah raja besar yang melimpahkan kebesaran kepada Raja-Raja Mela yu selaku anak keturunan-nya. Iskandar Dzulkarnain menjadi raja yang di agungkan. Ia dibanggakan sebagai tokoh yang menurunkan Raja-Raja Melayu. Kebesaran kerajaannnya dijadikan teladan bagi pemerintahan kerajaan-kera jaan para raja Melayu Nusantara.

Selain sebagai tokoh penurun yang mengalirkan darah atau spirit kebe saran raja, Iskandar Dzulkarnain dipandang juga sebagai tokoh pemberi ajaran mulia bagi kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan jasmani dan rohaninya, dan ajaran kepemimpinan bagi para raja-raja, yaitu bahwa seorang pemimpin atau raja harus selalu sadar akan fungsinya sebagai peng gembala bagi rakyat yang dipimpinnya.

Keagungan Iskandar Dzulkarnain sebagai raja yang diidamkan dalam corak Islam dimanfaatkan secara intensif sejak zaman daulah daulah Islam untuk berbagai keperluan. Ada berbagai fungsi utama dalam pengikut sertaan unsur Iskandar Dzulkarnain, terutama ialah fungsi mengangkat nama Iskan dar Dzulkarnain pada garis keturunan raja-raja Melayu di berbagai daerah di Asia Tenggara dan fungsi ajaran yang dikemukakan pada naskah yang berta lian dengan ajaran falsafah Islam, yang kemudian dihidupkan dalam tradisi kerajaan. Serta fungsi pembangkitan identitas jatidiri pembentuk corak kepribadian spesifik masyarakat Melayu yang berwawasan Nusantara.

Dapat dikatakan, bahwa hampir semua teks Melayu yang menyajikan sejarah asal usul raja-raja, dan kerajaan-kerajaan melibatkan ketokohan Iskan dar Dzulkarnain, seperti juga diungkapkan dalam berbagai teks Tambo Minangkabau yang menyatakan bahwa raja Alam Minangkabau yang perta ma, diceriterakan berasal dari “keturunan” Iskandar Dzulkarnain.

Khusus yang membicarakan hubungan Indonesia dengan Iskandar Dzulkarnain adalah buku Sejarah Melayu yang disusun Tun Sri Lanang di masa pemerintahan Iskandar Muda di Aceh. Tun Sri Lanang adalah seorang Bendahara yang “ditawan” Aceh dan semasa itu pulalah ia menyusun Seja rah Melayu yang dikatakannya bersumber dari Sejarah Melayu sebelumnya yang sempat dibacanya.

Ceritera-ceritera yang ditulisnya merupakan sebuah karya sastra yang berasal dari kumpulan ceritera-ceritera sebelumnya yang telah ada, bahkan dalam hubungannya dengan Iskandar Dzulkarnain, sudah menjadi anutan dan kepercayaan para raja-raja Melayu, baik di Melaka, atau di Sumatera seperti di Aceh, Minangkabau, Jambi dan Palembang. Khususnya di Kerajaan Kesul tanan Indrapura yang dalam riwayatnya tercatat sebagai salah satu pewaris kerajaan kerajaan Melayu yang pernah ada pada zamannya, jauh sebelum karya Tun Sri Lanang itu ada.

Pada saat buku Sejarah Melayu tersebut ditulis oleh Tun Sri Lanang, sebenarnya yang jadi raja di Aceh bukan lagi Iskandar Muda, tetapi seo rang keturunan raja dari Malaka yang jadi menantu Iskandar Muda. Pangeran ini juga bernama Iskandar, yakni Iskandar Tsani suami dari Ratu Syafiatuddin, putri dari Raja Iskandar Muda. Itulah sebabnya raja Aceh dan raja-raja selan jutnya juga menyatakan keturunan Iskandar Dzulkarnain.

Dikisahkan dalam buku itu tentang Iskandar Dzulkarnain, seorang raja besar yang sampai menjelajahi anak benua India sekarang. Iskandar Dzul karnain menikah dengan seorang putri anak Raja Kida Hindi, yang dari pernikahan ini melahirkan Raja Suran . Dimasa kecilnya Raja Suran diasuh oleh moyangnya Raja Aktabu’l Ardhi yang bersemayam di negeri Dasar Lautan (perlu penafsiran tersendiri ttg negeri Dasar Lautan ini) Raja Suran kelak kemudiannya mempunyai tiga orang putra, Nila Pahlawan, Nila Pandita dan yang bungsu bernama Nila Utama.

Ketiga anak Raja Suran ini dengan mengendarai lembu melakukan perjalanan sampai ke Bukit Seguntang Mahameru. Ketika itu, Nila Utama yang sedang mengendarai lembu, membuat dua wanita yang tinggal di sana, yakni Wan Empu dan Wan Malini (nama kiasan) terheran-heran, karena dari si pengendara lembu itu memancarkan sinar kemilau yang bercahaya-cahaya membuat semua padi di sawah menjadi emas, berdaunkan perak, dan batang nya tembaga suasa (kiasan spiritual).

Maka Wan Empu dan Wan Malini bertanya kepada ketiga pemuda tampan itu tentang asal usulnya, yang dijawab oleh salah seorang diantara mereka bahwa mereka adalah bangsa manusia juga, berasal dari anak cucu Raja Iskandar Dzulkarnain, nisab mereka dari pada Raja Nusyirwan Adil, raja masyrik dan maghrib dan pancar dari pada Raja Sulaiman Alaihis salam.

Dan dengan takdir Allah Ta’ala, dari mulut lembu kenaikan mereka itupun memuntahkan buih, dan dari buih itu keluarlah seorang manusia laki-laki dinamai Bat berdiri memuji anak raja tersebut. Maka anak raja itupun digelari oleh Bat dengan nama Sang Sapurba Taramberi Teribuana.

Nila Pahlawan kemudian menikah dengan Wan Empu, dan Nila Pandita menikah dengan Wan Malini. Sedangkan, Nila Utama yang digelari Sang Sapurba, kemudian menikah dengan Wan Sendari anak Demang Lebar Daun, Raja Palembang. Dari perkawinan ini Nila Utama Sang Sapurba beranak empat orang, dua orang perempuan bernama Putri Sri Dewi, dan Putri Cendra Dewi. Serta dua orang putra bernama Sang Maniaka, dan seorang lagi putra bungsunya yang kemudian juga bernama Nila Utama. Nila Utama putra Sang Sapurba ini kelak berlayar menuju pulau Temasik, kemudian dikenal dalam sejarah Melayu sebagai pendiri dan raja pertama Singapura yang berkuasa pada tahun 1300 – 1348 M. Putra Sang Sapurba yang juga bernama Nila Utama pendiri Singapura itu, akhirnya menjadi cikal bakal asal-usul keturunan raja-raja di Semenanjung Malaya, di antaranya Raja Malaka.

Di dalam Ranji Asli Keturunan Raja-Raja dan Sultan-Sultan Keraja an Kesultanan Indrapura yang diwarisi oleh Sutan Boerhanoeddin Gelar Sultan Firmansyah Alamsyah, (Transkripsi,1989) dikisahkan juga secara ringkas :

“Adopun nan bakuaso samaso itu disabut Daulat Sultan Sri Maharajo Dirajo, kerajaan di Pulau Linggapuri, kemudian banamo Pulau Emas, Pulau Perca, Lagundi Nan Baselo yaitu puncak gunung Marapi. Disitulah nan banamo Parahiangan istana Sultan, atau disabut Kerajaan Sultan Tajul Alamsyah. Pado maso itu belum banamo kerajaan Pagaruyung, dan alam ini balun banamo Minangkabau.Yang Ulia Daulat Sultan Sri Maharajo Dirajo berla yar mengarungi lautan besar dengan sebuah rakit sampai ke Bukit Seguntang-guntang dan sampai ke sebuah pulau, yang kemudian pulau itu beliau beri nama Singapura. Seterusnya beliau jadikan nagari Johor, Malaka dan Patani, dan lain-lain. Dan beliau inilah yang menurunkan kerajaan Sultan Nagari Sembilan. Dan disinilah pula pangkalnya hubungan keluarga Minangkabau dan Kerajaan Indropuro dengan kerajaan Nagari Sembilan, Malaya.”

Dapat diduga bahwa ada hubungan yang sama antara pendiri Singapura menurut kisah Sejarah Melayu karangan Tun Srilanang tersebut dengan nenek moyang Raja-Raja Kerajaan Kesultanan Indrapura, dan dengan Pariangan di kaki Gunung Merapi, yakni putra Sang Sapurba yang juga bernama Sang Nila Utama, disekitar awal abad ke 13 M.

Sementara itu dikisahkan pula bahwa, Sang Sapurba, putra dari Raja Suran dari Bukit Seguntang Mahameru kemudian pergi ke Minangkabau dan menikah dengan seorang putri raja di lereng Gunung Marapi (Puti Indo Jalito) setelah terlebih dahulu berhasil membunuh seekor ular naga. Dan dari pernikahan Sang Sapurba dengan putri dari Gunung Merapi itu, menurunkan raja-raja Minangkabau kelak di kemudian hari.

Walaupun Tambo Minangkabau sering dianggap sebagai legenda, do ngeng atau  mithos dengan cerita sejarah yang berbelit-belit, namun bila di simak dan ditelusuri secara hati-hati dengan teknik dan metode ilmunya dengan kemampuan menafsirkan ungkapan-ungkapan petuah, pepatah-peti tih dan berbagai kias ibarat yang terdapat di dalamnya, ternyata Tambo Minangkabau beserta turunannya tidak saja mengandung ajaran-ajaran fal safah adat yang mulia dengan nilai-nilai luhur yang diungkapkan dengan gaya bahasa seni sastra yang tinggi (Nasroen, l957) tetapi juga merupakan “bukti sejarah otentik” yang lengkap, dan tidak mudah begitu saja dikesam pingkan oleh para ahli dan peneliti sejarah, hanya karena “tidak mampu” menafsirkan atau memahami sastra dan bahasa kias yang terdapat dalam Tambo Minangkabau.

Anehnya banyak pula para ahli yang “berhabis-habisan” untuk men terjemahkan isi berbagai prasasti yang hanya terdiri dari beberapa baris untuk kemudian menafsirkannya secara imajinatif. Sebagai contoh kita tidak menemukan sebuah kepastian sampai sekarang, tentang arti “minanga tamwan” yang tertulis dalam sebuah prasasti yang dianggap factor kunci da lam menentukan sejarah keberadaan Sriwijaya di masa lalu.  Walaupun terjadi simpang siur pendapat, namun “minanga tamwan” tetap merupakan factor kunci yang menentukan jalannya sejarah di masa lalu. Demikian juga halnya dengan Tambo Minangkabau.

Edward Djamaris (1980 : 1) menyampaikan bahwa, beberapa ahli se jarah Minangkabau setelah mencoba menggali fakta-fakta sejarah dalam Tambo Minangkabau mengalami kekecewaan. Kekecewaan itu menurut Ed ward, karena belum dijelaskannya kedudukan cerita, termasuk jenis cerita apa Tambo Minangkabau itu, sifat-sifat penulisannnya, dan sebagainya. Pada hal orang Minangkabau menghargai Tambo Minangkabau sebagai pusaka litere nenek moyangnya yang berisi sejarah. Dalam rumusannya Edward Djamaris menjelaskan sebagai berikut :

Tambo Minangkabau merupakan sumber pengetahuan yang berharga yang memberikan gambaran Minangkabau masa lalu yang dapat membantu kita mengetahui keperca yaan, pandangan hidup, cara berfikir, adat istiadat, dan seba gainya. Hanya dengan mengetahui latar belakang, kedudukan, jenis, dan tujuan penulisan Tambo Minangkabau baru dapat digunakan sebagai sarana untuk penelitian ilmiah bukan sastra, seperti sejarah, antropologi, dan sosiologi.

 

Dalam konteks tulisan ini, hampir semua Tambo Alam Minangkabau menyebut bahwa Iskandar Dzulkarnain adalah putra dari Nabi Siyst As. anak terbungsu Nabi Adam As. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Iskandar Dzulkarnain itu sebenarnya  adalah Nabi Siyst  As. sendiri.

Menurut Tambo Alam Minangkabau,  riwayat Iskandar Dzulkarnain dimulai dari Iskandar Dzulkarnain yang menjadi anak bungsu Nabi Adam A.s., karena tidak memiliki pasangan di dunia, atas berkat do’a Nabi Adam A.s. yang memohonkan jodoh untuk anak bungsunya itu, dikabulkan Tuhan Rabbul Alamin.  Putra bungsu Nabi Adam A.s. tersebut lalu dinikahkan oleh malaikat Jibril a.s.  dengan seorang putri bidadari dari surga, Jati Ratna namanya (Jati Rono, Ratna Sejati, Warna Sejati)  dan sejak itu pula ia diberi gelar kebesaran dengan nama Iskandar Dzulkarnain. Sebagian Tambo hanya menyebut “Dzulkarnain” artinya bertanduk dua. Pada awalnya tanduk itu zahir di atas kepala, tetapi kemudian tanduknya di potong sehingga tidak menakutkan manusia. Cerita ini jelas mengandung warna sufistik awal tentang asal usul kejadian, yang memerlukan kupasan tersendiri, karena mengandung kias dan ibarat berkenaan aspek zahir dan batin (tidak bisa ditafsirkan secara lahir saja).

Dengan pasangan bidadari itu Iskandar Dzulkarnain diceritakan memperoleh tiga orang putra, yakni : 1). Sultan Sri Maharaja Alif,  kemabali ke (di) benua Rum 2). Sultan Sri Maharaja Dipang (kembali ke (yang pergi) ke Tibet negeri Cina, dan 3). Sultan Sri Maharaja Diraja menjadi raja di Pariangan, Alam Minangkabau.

Banyak tambo-tambo Minangkabau mencatat kisah-kisah Sultan Is kandar Dzulkarnain ini sebagai ringkasan-ringkasan yang terpotong, se hingga urutan sejarahnya menjadi kabur, akibat keterangan yang meloncat-koncat. Hal ini dapat dilihat  dari riwayat anak bungsu Nabi Adam A.s. yang bernama Siyst yang tidak punya jodoh, kemudian kisahnya langsung melompat sampai kepada Sultan Sri Maharajo Dirajo yang kawin dengan Puti Indo Jalito di Pariangan. Agaknya cerita yang demikian merupakan sebuah penggalan yang terputus lalu disambung seenaknya saja.

Dugaan ini, karena ada pula tambo yang menuturkan melanjutkan kisahnya sampai kepada zaman Nabi Nuh A.s. yang dikenal sebagai bapak manusia yang kedua setelah Nabi Adam As. ketika kiamat Nuh terjadi di bumi ini, setelah selamat menghadapi banjir besar, Nabi Nuh A.s. berputra tiga orang yakni Ham, Zam, dan Yafist. Yang kelak menurunkan bangsa-bangsa di dunia dengan watak kepribadian yang berbeda. Diantaranya ada pula yang menurunkan “raja-raja pertuanan, sultan-sultan”. Masalahnya sekarang, siapakah yang menyandang gelar Mahkota Daulat Sultan Sri Maharajo Dirajo yang pertama ?

Dari mana asal muasalnya ?

Siapa Sri Maharajo Dirajo sebelum Sang Sapurba kawin dengan Puti Indojalito di Pariangan. Karena ternyata gelar “Sri Maharajo Dirajo” diha diahkan oleh Pariangan kepada Sang Sapurba, Raja Natan Sangsita Sang kala yang telah berjasa mengalahkan Naga yang datang dari laut melilit gunung Marapi.   Lalu dikawinkan dengan Puti Indo Jalito, dan dihadiahi gelar Sri Maharja Diraja di Pariangan. Artinya gelar Sri Maharaja Diraja telah turun temurun diwarisi secara adat oleh Pariangan, sehingga berhak untuk menyandangkannya/menghadiahkannya kepada tokoh ter tentu yang barjasa di masa itu.

Tambo Alam Minangkabau selalu memulai dengan Sultan Sri Maha raja Diraja sebagai tokoh sentral Daulat Yang Dipertuan Daulat Pulau Perca, yang kemudian nama Pulau Perca berganti menjadi Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Paco, Pulau Sumatera, sampai akhirnya kepada zaman Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung. Menurunkan pula Sultan-Sultan, dan dari anak cucu mereka pula banyak raja raja yang terse bar di berbagai negeri berkuasa pada zamannya di pulau Sumatera, bahkan sampai ke Negeri Sembilan, Singapura, Johor, Serawak dan Brunei Darus salam merupakan belahan persaudaraannya.

Tambo Minangkabau mengisahkan bahwa Daulat  Sultan Sri Maha raja Diraja naik ke pinggang gunung Marapi sampai di Pariangan, kawin dengan Puti Indo Jalito dan berputra seorang yang bernama Sutan Paduko Basa bergelar Datuk Ketumanggungan.  Apabila yang dimaksud disini adalah ayah dan ibu kandung Sutan Paduko Basa yang bergelar Datuk Ketumanggungan, maka yang menyandang gelar Daulat Sultan Sri Maha raja Diraja itu adalah Raja Natan Sangsita Sangkala, Sang Pertalo Kala  yang naik ke Pariangan, kemudian nikah dengan Puti Indo Jalito, adik kandung Datuk Suri Dirajo Pangulu Pariangan di zaman itu.

Di Pariangan inilah ia dinobatkan dengan menjunjung gelar  mahkota  Daulat Sri Maharaja Diraja tersebut, akibat perkawinannya dengan Putri Indo Jalito. Ini merupakan sebuah kurun dari berkurun-kurun peristiwa sejarah yang tenggelam di masa lalu, di lereng Gunung Marapi.  Artinya penggalan sejarah ini terjadi pada zaman seorang yang dinobatkan sebagai Sultan Maharaja Diraja yang kawin dengan seorang Putri Pariangan berna ma Indojalito (Indrajelita) [1].

Pada hal, tokoh Sri Maharaja Diraja di waktu itu adalah seorang Raja dari  Palembang yang juga menjadi raja di Natanpura. Raja ini bernama  Sangsita Sangkala, Sang Pertalo Kala menantu dari raja Palembang, yang telah menikah dengan Putri Bijayo Dewi anak raja Palembang, kemudian didudukkan pula sebagai Raja Palembang.

Di Palembang, sang istri melahirkan 4 orang putra putri, seperti telah disebutkan terdahulu, yakni Putri Sri Dewi yang pergi ke Cina, Putri Candra Dewi ke Madang Kamulan Majapahit, Rajo Mandalika ke Tanjung Pura, dan Sang Pertalo Jama Nila Utama menjadi Raja di Temasik. Nama Temasik kemudian berganti menjadi Singapura di abad ke 13.  Berarti yang disebut sebagai Nila Utama dengan gelar Sang Sapurba menurut Sejarah Melayu, tidak lain adalah Sang Sita Sangkala sesuai pula menurut Tambo Rajo-Rajo Gunung Merapi di Pariangan. Zamannya jelas sebelum abad ke 13, sebelum munculnya nama Singapura yang didirikan oleh putra Sang Sapurba sendiri.

Sementara itu Raja Palembang ini juga telah menikah dengan Putri Betari Dewi di Natanpura, kemudian diangkat dan berkedudukan sebagai raja pula di Natan, dengan sebutan Raja Natan. Kemudian Raja Natan naik memudiki hulu Batang Hari, sampai ke Melayu Kampung Dalam Tiga La ras (Siguntur Pulau Punjung sekarang). Raja Natan ini  nikah pula dengan Putri Reno Jani kemenakan kandung Tuanku Tiga Laras, Tiang Panjang, Sri Baginda Tribuwanaraja Mauliwarmadewa (1275 – 1300 M). Kelak kemudian Putri Reno Jani melahirkan pula beberapa  orang putra dan putri.

Seperti telah disebutkan, kemudian Raja Natan atas permintaan Cati Bilang Pandai, raja ini datang ke Pariangan untuk membantu negeri itu yang sedang “dipalut Ular Naga” . Atas kerjasama yang baik antara Cati Bilang Pandai dengan Raja ini, akhirnya “Ular Naga” dapat dilumpuhkan. Negeri Pariangan di pinggang Gunung Merapi menjadi aman kembali.

Dengan rasa terima kasih akhirnya Sang Rajo dijodohkan dengan Putri Indo Jalito,  adik kandung satu-satunya dari Datuk Suri Dirajo yang waktu itu adalah pemimpin Pariangan sebagai Pangulu pertama di Pariangan.

.  Dengan demikian berdasarkan uraian Tambo yang berceceran[2]  dapat disimpulkan bahwa Raja Sangsita Sangkala memiliki empat orang istri, yakni :

1). Putri Bijayo Dewi di Palembang,

2). Putri Betari Dewi di Natanpura,

3). Putri Reno Jani di  Melayu Kampung Dalam Tiga Laras, dan

4). Putri Indo Jalito di Pariangan.[3]

Putri Reno Jani yang berasal dari Melayu Kampung Dalam Tigo La ras kemudian di bawa Raja Natan Sangsita Sangkala ke lereng Gunung Marapi, dan ditempatkan di nagari Kumanis dalam Luak Tanah Datar.  Put ri ini kemudian terkenal dengan sebutannya sebagai Putri Kumanis.[4]

Setelah beberapa lama Daulat Yang Dipertuan Sri Maharajo Dirajo ini meninggal dunia di Pariangan. Permaisuri beliau Puti Indo Jalito, kemudian kawin pula dengan Cati Bilang Pandai yang menyandang gelar Niniek Indojati dan memperoleh beberapa orang anak.  Menurut Tambo Tinggi Indrapura,   Indrajati atau Niniek Indojati  berasal dari Indrapura.

Yang tertua dari anak anak tersebut kelak kemudian diberi gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang. Dalam sejarahnya kemudian kedua putra ini menjadi tokoh utama  pemikir dan pendiri Adat Alam Minangkabau, yang berpusat di Pariangan. .

Bagaimana pula dengan cerita yang lain ?  (bersambung)

Emral Djamal Dt. Rajo Mudo

Dok. Salimbado / diperbaharui, 2012

 

[1] Indojalito, Indrajelita tidak sama dengan Indojati, Indojaliah, Indahjaliah, seperti ditulis sebagian para penulis Tambo. Perlu hati-hati dalam menuliskan nama-nama raja-raja atau putri-putri Minangkabau yang secara tradisi banyak menyandang nama dan gelar yang turun temurun, sehingga dapat mengaburkan periode sejarahnya.

[2] Banyak penulis Tambo hanya memenggal sebagian-sebagian saja data sejarah yang ada  sesuai dengan sisi pandang mereka sendiri. Sehingga tidak ayal lagi terjadinya kecenderungan untuk menafikan bagian-bagian sejarah tertentu untuk mengisbatkan sejarah nagari sendiri.  Akibatnya berbagai informasi sejarah menjadi berceceran di pedalaman, terutama pada zuriat keturunan masing-masing istri raja tersebut. Cerita sejarah menjadi tumpang tindih, ketika semua keturunan raja-raja di Minangkabau mengaku dari keturunan Iskandar Dzulkarnain tetapi tidak mampu menjelaskan silsilah keturunan yang sampai ke negerinya sendiri.  Ini terbukti dari empat istri Sangsita Sangkala yang menjunjung gelar Daulat Sri Maharajo Dirajo Pulau Perca, yang kelak menurunkan raja-raja mengisi wilayah Alam Minangkabau di pulau Perca sampai ke rantaunya.

[3] Putri Indo Jalito adalah generasi terakhir keturunan raja-rajo Putri Gunung Marapi di Pariangan. Diakui sebagai Ninik yang menurunkan raja-raja Alam Minangkabau berikut nya di Pagaruyung.

[4] Putri Kumanis setelah meninggalnya Raja Natan Sangsita Sangkala,  kemudian kem bali ke Suwarnapura, Sumpur Kudus. Dari Putri inilah asal usul seluruh cucuran raja-raja Sumpur Kudus di Alam Minangkabau yang kelak kemudian bertebaran sampai ke rantau.

Emral Djamal – Dok. Salimbado

Tentang YHOHANNES NEOLDY, ST

Seberapa besar kita mengenal diri kita sendiri, tentunya hanya kita yang tau. Kita bisa berbicara A didepan orang mengenai diri kita. tapi bisakah kita mengatkan B pada Hati kita. tentunya tidak sejujurnya kita tidak dapat membohongi hati kita. kita suka terhadap sesuatu tapi dengan berbagai pertimbnagan kita malas mengungkapakan hal tersebut….kenapa dan mengapa??? tentunya hanya kita yang tahu. apakah sebegitu memalukannya hal yang kita inginkan sehingga kita tidak berani dan enggan mengungkapkannya. …saiYah… kLo suRuh descrIbe aBouT mY seLf.. gw seNdiri biNguNg.. seTiaP haRi aDa yG beRubaH.. eNTah yG baIk ataU yaNg buRux.. yG pasti gw bUkaN oRang yaNg meNgikuTi aRus.. BiaR kaN meReka di LUaR saNa beRmaiN deNgan maiNaNnya.. aKu deNgaN maiNaN ku seNdiri.. Gw kadaNg gILa kaDang meLankoLis kadaNg juga sTatis.. haNya terKadaNg hiduP ku teRLalu draMatis tuK ku ceRitaKan.. aKu oRang aNeH yG taK peRnah teRteBak oLeh Ku sendirI keMaNa jaLan yG ku tUju..HaL baRu.. aKu peMbuRu haL baRu.. di dUNia iNi banYak haL yg beLum ku keNaL.. MuNgkiN akaN ku haBis kaN hiduP ku uNTuK iTu daN bersEraH diRi seUtuHnya pada-Nya.. peTuaLaNg.. iTu meMaNg! oRaNg yG maLang.. Ku rasa aKu iNgiN puLaNg.. ke JaLan iTu.. BUkaN meLayaNg” spRti saaT ini.. aKu aneH.. peNuh deNgan diLemaTis.. taPi aKu taU siaPa aKu.. aH ribeT.. neoldy… neoldy… saMa saJa.. sILahkaN kaLIan yG meNiLai.. sUdaH banyaK Kok yaNg meniLai.. tesTi Ku saJa yG kaLIan baca tUk mengeNaL ku.. yG kadaNg giLa kadaNg aneH.. RibeTtttttttttt!!!!!!! PokoknYa yg pEngen taU gMn gW oR6nYa cobaLah utK l3bih deKaT..deKaT..DeKaT..Dekat..terUs..Terus..TerUs bElUm DeKat.. TRus dah ah BaHaYa terLaLu dEkaT……………….”WARNING” Lagi….. Saya lebih suka memulai dari bawah dan mendaki kepuncak dari pada memulai dari puncak dan harus tetap bertahan disana. Berbagai bunga serta kerikil dalam kehidupan ini telah sering aku rasakan, baik itu dalam bentuk cemoohan, cacian, sanjungan, sindiran, pujian, bahkan ada pula dukungan serta tekanan yang membuatku semakin hidup ini menjadi lebih bisa aku maknai. Tapi semua itu hanya pandangan orang dari luar saja, hati ini tak ada yang tau aku merasakan apa saat ini, sakitkah aku, pedihkan aku, teririskah aku atau senangkah aku, bahagiakan aku, ceriakah aku itu semua hanya hatiku yang membawa kemana aku harus melangkah mencari jalan yang benar2 lurus tanpa duri2. Meski kesedihan terus menggantung pada kelopak mata ini berusaha menarik terus dengan kuat air mataku untuk keluar dan terkadang tangisan itu tak bisa ku bendung sampai tersedu-sedu. Aku berjuang dengan tangnku sendiri hanya mama dan nenek ku yang perhatian untukku. Menghormati diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengendalikan diri sendiri. Tiga ini saja mengarahkan hidup pada kekuatan yang berddaulat. Ingatlah kebaikan seseorang pada kita Lupakan kesalahan seseorang pada kita Ingatlah kesalahan kita pada orang lain dan Lupakan kebaikan kita pada orang lain jangan berdusta bila tak ingin didustai… Ketika Seseorang melukai hatimu, tulislah diatas pasir agar terhapus angin. Bila kebaikan yang terjadi, pahatlah di atas batu agar tidak terhapus oleh angin. Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri. Kemandirian untuk mengisi waktu muda dengan hal-hal positif dan tidak takut akan adanya perbedaan. Serta kemandirian untuk selalu melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari penyelesaian permasalahan, tanpa berharap adanya kesempatan dari orang lain. “Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang … apalagi baru bertemu atau cuma melihat dari jauh! Kenali dulu orang itu, baru menilai! Bak pitua urang minang, “KOK NDAK TAU JO GADANG OMBAK CALIEK KAPANTAINYO, KOK NDAK TAU JO GADANG KAYU CALIK KA PANGKANYO” Kehidupan mengajarkan aku untuk bersikap bisa menerima kenyataan pengalaman mengajarkan aku akan arti kejujuran kebenaran tak akan penah terkalahkan oleh satu apapun karna saat kejujuran itu berkata maka kebenaran akan mengungkapkan semuanya salah bagi mereka yang menyalahkan kan arti kejujuran .. salah bagi mereka yang tak memperdulikan kebenaransalah untuk mereka yang menutup mata telinga hati dan pikiran untuk mengetahui kenyataan kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup ini butuh perjuangan. Dalam hidup ini perlu pengorbanan. Dan dalam hidup ini aku harus melakukan hal yang benar meskipun berbahaya!!! CINTA KEBAHAGIAAN KASIH SAYANG PERSAHABATAN TUMBUHNYA DARI HATI YANG TULUS. Aku akan mencintai orang yang mencitaiku dan akan menjaga mereka dengan sepenuh hati tidak akan menyakitinya dan lukai hatinya karna cinta semua akan terasa indah cuman GW yang bisa ngedapetin hatinya Saat hidup berjalan di luar rencana pasti ada sesuatu keajaiban di dalamnya. Hanya orang-orang yang bisa berfikir jernih yang akan mampu memunculkan ke ajaiban itu dan memahami bawah hidup itu misteri Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menytakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya. “Untuk melakukan suatu perubahan bukanlah tugas yg mudah. Kadang kita dihina, dicaci, diremehkan & bahkan difitnah. Kita harus berterimakasih kepada mereka untuk menunjukkan & membuktikan bahwa kita bisa. semua tantangan itu akan dapat teratasi.” Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting mau kemana kita akan melangkah. Tentukan tujuan dari sekarang, cintai prosesnya dan mimpikan hasil terbaiknya! Berapa besar kepercayaan orang, ditentukan oleh seberapa besar kejujuran dan kredibilitas kita. Bangun kredebilitas dan tetaplah mengutamakan kebenaran hakiki yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak peduli dengan latar belakang keluarga, yang penting kita mau melakukan sesuatu dan kita berada di jalur yang tepat dan mau tumbuh juga berkembang. Orang tua kita siapa itu tidak penting, terpenting kita mau jadi anak yang bagaimana. Tidak peduli masa lalu, yang penting hari ini, esok dan seterusnya. Tak perlu pikirkan buruknya masa lalu, hinannya kita di masa lalu, yang penting kita mau memikirkan dan berubah mulai sekarang untuk hari esok. Tidak peduli siapa diri kita di mata orang lain, yang penting kita mau melihat orang lain dari sisi terbaiknya dan mau melihat diri kita dari sisi terbaik dan terburuknya. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki. Sukses bukan berarti serba bisa! Buah yang akan kita petik, ditentukan dari bagaimana kita menanamnya. Lakukan yang terbaik dan tetaplah konsiten. Bagaimana sekarang kita berproses, maka inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya. Tuhan tidak pernah tidur, kuasanya tahu mana hamba-hambanya yang mau melakukan sesuatu dan bekerja keras, berdo’a dan meyakini bahwa tuhan akan ikut campur tangan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita. Tetaplah optimis dan lakukanlah yang terbaik. Seberapa besar mimpi kita itu tidak penting, yang penting seberapa besar sesuatu yang kita kerjakan dan seberapa tepat kita melakukannya. Timing! “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan INI BAPAK SAYA. Tapi pemuda adalah seorang yang mengatakan INILAH SAYA”
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Minangkabau. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s