Apakah Ini Istana Yg Ada Di Simpang Stano (Nagari Buo [Lintau]) yang Terdahulu Itu??


247549_649921605034251_2024682848_nSUTAN HASYIM TUANKU TINGGI : Penghoeloe Kapala “ in het Lintonsche. Secara tidak sengaja, saat klik sana klik sini di dunia maya, kami dikejutkan oleh adanya gambar di atas dari Tropen Museum di Leiden. Di sana tertulis bahwa gambar ini adalah gambar sebuah mesjid di Lintau. Takjub dan senang dengan adanya gambar foto lama yang masih disimpan oleh pihak museum Belanda, sebagai pengetahuan buat kita akan ketinggian seni arsitektur masa silam yang sangat piawai dalam membentuk bangunan rumah adat. 

Sepintas kita lihat seperti bentuk sebuah roket yang siap luncur ke angkasa dihiasi oleh tanduk-tanduk rumah gadang seperti lazimnya rumah gadang di Minangkabau. Adanya sebuah rangkiang di sebelah kanan tampaknya membuat kita berpikir bahwa bangunan ini bukanlah sebuah mesjid, karena rangkiang berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi bagi pemilik rumah gadang ini. Sangat tidak lazim di Minangkabau sebuah mesjid atau surau memiliki rangkian yang ditempatkan di sampingnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

PERAN BUNDO KANDUANG TERHADAP GADIH MINANG DALAM MELESTARIKAN BUDAYA BAJU KURUANG BASIBA


 Oleh : DERI SAPUTRA

  1. Makna Bundo Kanduang

Sumatera Barat ada suatu suku bangsa yang di sebut Minangkabau. Sebagian orang menyebutkan asal kata Minangkabau memiliki banyak arti di antaranya ” menang adu kerbau”, ada juga yang mengatakan ”menang kerbau”, bahkan ada pula yang mengatakan Minangkabau berasal dari senjata tajam yang dipasangkan pada tanduk kerbau. Versi lain ada juga yang mengatakan bahwa Minangkabau tidak berasal dari kata adu kerbau namun suda ada sejak dulu, hal ini tercermin dengan bangunan rumah adatnya yang bergonjong. Lepas dari semua versi yang ada, yang jelas suka bangsa ini lebih suka menyebut daerah kita adalah ” Ranah Minang ” dan bukan ” Ranah Kebau ”. Sementara dalam pergaulan antar suku orang minangkabau dengan sesamanya menyebut diri ” Urang Awak ” artinya ” Orang Kita ”. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

MASALAH BUDAYA DAN KAITANNYA DENGAN KECERDASAN SPIRITUAL GENERASI MUDA DI MINANG KABAU


 OLEH :SUCI RAMADHANI

 

TEMA : Membentengi diri para generasi muda dalam menghadapi gempuran budaya barat masuk ke minang kabau khususnya di Tanah Datar

Masalah budaya dan kaitannya dengan kecerdasan spiritual generasi muda di minang kabau

                        Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan perasaan generasi muda menilai atau berbuat di tengah maraknya budaya barat yang masuk sehingga mereka bisa menjaga budaya minang kabau.

  • minangkabau salah satu suku bangsa yang terkenal dengan “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah-nya” ungkapan ini menegaskan bahwa setiap orang berdarah minang adalah muslim yang taat dan patuh kepada al-quran dan bertuhankan kepada allah. Disamping semua itu minangkabau dikenal dengan keelokan bahasa, pakaian, adat-istiadat dan ditambah dengan bentang alam nan hijau sejauh mata memandang.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

MAJU DAN BANGKIT PARA MUDA MUDI


 OLEH : ALVIS CANDRA DEVITRA

TEMA :

MENINGKATKAN KEPEDULIAN GENERASI MUDA TERHADAP BUDAYA MINANG KABAU KHUSUS NYA TANAH DATAR.

Budaya :

Budaya merupakan suatu komponen yang sangat berarti bagi suatu bangsa karena budaya merupakan perekat bangsa dan menjadi ciri khas dari suatu negara.Dengan adanya kebudayaan maka suatu negara dapat dibedakan dengan negara satu dengan negara yang lainnya karena masing-masing negara mempunyai budaya yang berbeda-beda.Karena peranan budaya sangat penting,maka perlunya pelestarian nilai-nilai budaya dalam masyarakat agar budaya tersebut tidak punah termakan usia karena jika dilihat dalam kenyataanya banyak sekali generasi muda yang kurang bahkan tidak peduli dengan kebudayaannya.Untuk itu perlu adanya sosialisasi dan perhatian dari pemerintah serta kesadaran masyarakat khususnya masyarakat Indonesia untuk melestarikan nilai-nilai budaya dalam kehidupannya dengan cara pemberdayaan masyarakat dalam upaya pelestarian nilai budaya.

  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel, Uncategorized | Meninggalkan komentar

“”LKAAM – ORGANISASI DITEMBAK PATUIH””


Mukadimah : Tulisan ini sebagai refleksi seorang Budayawan Minang, yang bermaksud mengkritisi organisasi niniak mamak di Sumatera Barat, sebagai wujud kecintaan pada ranah minangkabau. Dunsanak PAM yang kami hormati, silahkan memberikan tanggapan, dengan bernas & santun berkomentar, semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin.

Wisran HadiWisran Hadi

ORGANISASI DITEMBAK PATUIH

Oleh: Wisran Hadi

http://wisran.vndv.com/17.pdf

Begitu mungkin julukan yang tepat saat ini bagi LKAAM. Kaateh indak bapucuak, karena LKAAM sudah melepaskan diri dari naungan utamanya, Golkar. Kabawah indak baurek, karena LKAAM bukanlah organisasi yang membawahi KAN. Tidak ada kaum atau kemenakan yang berada di bawahnya. Di tangah-tangah di giriak kumbang, karena pengurus LKAAM telah membebaskan diri pula dari kepengurusan yang terdiri dari para pejabat. Semua itu karena LKAAM telah ditembak patuih. Patuihnya adalah reformasi.

Dalam masa-masa ke depan, LKAAM sebagai sebuah lembaga yang menghimpun para datuk benar-benar mendapat tantangan yang luar biasa berat. Dengan melepaskan diri dari Golkar, tidak lagi menjadi “perpanjangan tangan partai” dan tidak pula bergantung lagi pada pejabat dalam kepengurusannya, tentulah dapat diperkirakan kesulitan yang dihadapi. Terutama masalah dana, kemudian masalah wibawa. LKAAM harus dapat membiayai diri sendiri, tidak perlu lagi tergantung dari anggaran yang disuntikkan oleh partai atau pejabat-pejabat tertentu.

 
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Raja-raja Pagaruyung dan Sultan Alam Bagagar Syah


Daulat Yang Dipertuan Sultan Alam Bagagar Syah, Raja Alam Pagaruyung

Berdasarkan Silsilah Ahli Waris Daulat yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung, Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah yang dikenal juga dengan panggilan Yang Dipertuan Hitam mempunyai empat orang saudara; Puti Reno Sori, Tuan Gadih Tembong, Tuan Bujang Nan Bakundi dan Yang Dipertuan Batuhampar, hasil perkawinan dari Daulat yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah (II) yang juga dikenal dengan kebesarannya Sultan Abdul Fatah Sultan Abdul Jalil (I) dengan Puti Reno Janji Tuan Gadih Pagaruyung XI.


Rumah Gadang.

Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah menikah pertama kali dengan Siti Badi’ah dari Padang mempunyai empat orang putera yaitu: Sutan Mangun Tuah, Puti Siti Hella Perhimpunan, Sutan Oyong (Sutan Bagalib Alam) dan Puti Sari Gumilan.

Dengan isteri keduanya Puti Lenggogeni (kemenakan Tuan Panitahan Sungai Tarab) mempunyai satu orang putera yaitu Sutan Mangun (yang kemudian menjadi Tuan Panitahan SungaiTarab salah seorang dari Basa Ampek Balai dari Kerajaan Pagaruyung).Sutan Mangun menikah dengan Puti Reno Sumpu Tuan Gadih Pagaruyung ke XIII (anak Puti Reno Sori Tuan Gadih Pagaruyung XII dan kemenakan kandung dari Sultan Alam Bagagarsyah). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Minangkabau | Meninggalkan komentar

MANGAMPUANGKAN (KAMPUANG) NAN TASERAK


Manusia Minangkabau secara teoritis mempunyai metoda anali sa, dan sistim berfikir khas dan spesifik yang dapat dipelajari ditelaah dan dipa hami secara falsafi. Metoda analisa dan sisitim berfikir spesifik tersebut dalam kehidupannya memiliki batasan cakrawalanya yang khas, sebagai karya (buek) kreatif, disebut sebagai Alam (Fikiran) Minangkabau. Untuk dapat masuk ke dalam Alam Fikiran Minangka bau itu, tentulah kita harus memahami dasar-dasar falsafahnya yang masih hidup dalam masyarakat tradisinya, dipakai secara sadar sebagai Adat Alam Minangkabau. 

Adat Minangkabau mempunyai dasar falsafah yang tertentu dan bulat, yang disampaikan oleh sejarah dari zaman ke zaman sampai dewasa ini. Dasar falsafah inilah yang penting, yaitu untuk mengisi waktu yang sekarang, dan menghadapi waktu yang akan datang. Ide yang terkandung dalam falsafah itu akan hidup terus, sungguhpun realisasinya akan disesuaikan dengan keadaan, dan zaman.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Minangkabau | Meninggalkan komentar