Apakah Ini Istana Yg Ada Di Simpang Stano (Nagari Buo [Lintau]) yang Terdahulu Itu??


247549_649921605034251_2024682848_nSUTAN HASYIM TUANKU TINGGI : Penghoeloe Kapala “ in het Lintonsche. Secara tidak sengaja, saat klik sana klik sini di dunia maya, kami dikejutkan oleh adanya gambar di atas dari Tropen Museum di Leiden. Di sana tertulis bahwa gambar ini adalah gambar sebuah mesjid di Lintau. Takjub dan senang dengan adanya gambar foto lama yang masih disimpan oleh pihak museum Belanda, sebagai pengetahuan buat kita akan ketinggian seni arsitektur masa silam yang sangat piawai dalam membentuk bangunan rumah adat. 

Sepintas kita lihat seperti bentuk sebuah roket yang siap luncur ke angkasa dihiasi oleh tanduk-tanduk rumah gadang seperti lazimnya rumah gadang di Minangkabau. Adanya sebuah rangkiang di sebelah kanan tampaknya membuat kita berpikir bahwa bangunan ini bukanlah sebuah mesjid, karena rangkiang berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi bagi pemilik rumah gadang ini. Sangat tidak lazim di Minangkabau sebuah mesjid atau surau memiliki rangkian yang ditempatkan di sampingnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

“”LKAAM – ORGANISASI DITEMBAK PATUIH””


Mukadimah : Tulisan ini sebagai refleksi seorang Budayawan Minang, yang bermaksud mengkritisi organisasi niniak mamak di Sumatera Barat, sebagai wujud kecintaan pada ranah minangkabau. Dunsanak PAM yang kami hormati, silahkan memberikan tanggapan, dengan bernas & santun berkomentar, semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin.

Wisran HadiWisran Hadi

ORGANISASI DITEMBAK PATUIH

Oleh: Wisran Hadi

http://wisran.vndv.com/17.pdf

Begitu mungkin julukan yang tepat saat ini bagi LKAAM. Kaateh indak bapucuak, karena LKAAM sudah melepaskan diri dari naungan utamanya, Golkar. Kabawah indak baurek, karena LKAAM bukanlah organisasi yang membawahi KAN. Tidak ada kaum atau kemenakan yang berada di bawahnya. Di tangah-tangah di giriak kumbang, karena pengurus LKAAM telah membebaskan diri pula dari kepengurusan yang terdiri dari para pejabat. Semua itu karena LKAAM telah ditembak patuih. Patuihnya adalah reformasi.

Dalam masa-masa ke depan, LKAAM sebagai sebuah lembaga yang menghimpun para datuk benar-benar mendapat tantangan yang luar biasa berat. Dengan melepaskan diri dari Golkar, tidak lagi menjadi “perpanjangan tangan partai” dan tidak pula bergantung lagi pada pejabat dalam kepengurusannya, tentulah dapat diperkirakan kesulitan yang dihadapi. Terutama masalah dana, kemudian masalah wibawa. LKAAM harus dapat membiayai diri sendiri, tidak perlu lagi tergantung dari anggaran yang disuntikkan oleh partai atau pejabat-pejabat tertentu.

 
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Raja-raja Pagaruyung dan Sultan Alam Bagagar Syah


Daulat Yang Dipertuan Sultan Alam Bagagar Syah, Raja Alam Pagaruyung

Berdasarkan Silsilah Ahli Waris Daulat yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung, Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah yang dikenal juga dengan panggilan Yang Dipertuan Hitam mempunyai empat orang saudara; Puti Reno Sori, Tuan Gadih Tembong, Tuan Bujang Nan Bakundi dan Yang Dipertuan Batuhampar, hasil perkawinan dari Daulat yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah (II) yang juga dikenal dengan kebesarannya Sultan Abdul Fatah Sultan Abdul Jalil (I) dengan Puti Reno Janji Tuan Gadih Pagaruyung XI.


Rumah Gadang.

Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah menikah pertama kali dengan Siti Badi’ah dari Padang mempunyai empat orang putera yaitu: Sutan Mangun Tuah, Puti Siti Hella Perhimpunan, Sutan Oyong (Sutan Bagalib Alam) dan Puti Sari Gumilan.

Dengan isteri keduanya Puti Lenggogeni (kemenakan Tuan Panitahan Sungai Tarab) mempunyai satu orang putera yaitu Sutan Mangun (yang kemudian menjadi Tuan Panitahan SungaiTarab salah seorang dari Basa Ampek Balai dari Kerajaan Pagaruyung).Sutan Mangun menikah dengan Puti Reno Sumpu Tuan Gadih Pagaruyung ke XIII (anak Puti Reno Sori Tuan Gadih Pagaruyung XII dan kemenakan kandung dari Sultan Alam Bagagarsyah). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Minangkabau | Meninggalkan komentar

MANGAMPUANGKAN (KAMPUANG) NAN TASERAK


Manusia Minangkabau secara teoritis mempunyai metoda anali sa, dan sistim berfikir khas dan spesifik yang dapat dipelajari ditelaah dan dipa hami secara falsafi. Metoda analisa dan sisitim berfikir spesifik tersebut dalam kehidupannya memiliki batasan cakrawalanya yang khas, sebagai karya (buek) kreatif, disebut sebagai Alam (Fikiran) Minangkabau. Untuk dapat masuk ke dalam Alam Fikiran Minangka bau itu, tentulah kita harus memahami dasar-dasar falsafahnya yang masih hidup dalam masyarakat tradisinya, dipakai secara sadar sebagai Adat Alam Minangkabau. 

Adat Minangkabau mempunyai dasar falsafah yang tertentu dan bulat, yang disampaikan oleh sejarah dari zaman ke zaman sampai dewasa ini. Dasar falsafah inilah yang penting, yaitu untuk mengisi waktu yang sekarang, dan menghadapi waktu yang akan datang. Ide yang terkandung dalam falsafah itu akan hidup terus, sungguhpun realisasinya akan disesuaikan dengan keadaan, dan zaman.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Minangkabau | Meninggalkan komentar

MAMBANGKIK BATANG TARANDAM MAMBANGKIK TAREH NAN TALAMUN


Mambangkik Batang Tarandam, 
tidaklah hanya sekedar orasi atau hiasan spanduk 
bagi upaya mengantisipasi kerisauan-kerisauan 
di tengah-tengah perpacuan tranformasi budaya yang pesat di abad ini.

Apakah yang dimaksud dengan “mambangkik batang tarandam” itu. Apakah “batang tarandam” itu menurut alam fikiran Minangkabau. Bagaimana rupawujudnya, bagaimana, strukturnya? Kalau “batang” yang dimaksud adalah “pohon” tentulah ada rupa dan wujud pohon tersebut. 

Kalau yang dimaksud dengan “batang” itu adalah “sungai”, tentulah ada sungainya, seperti Batang Hari, Batang Kuwantan, Sungai Musi, Sungai Indragiri, dan lain-lainnya. Kalau “batang” tersebut sebagai “pohon kayu”, tentulah kayu itu punya nama sebagai batang pohon. Dan sebagai “pohon” tentu punya cabang dan ranting-ranting yang menghasilkan buah. Demikian pula kalau batang itu merupakan sungai yang mengalir, tentulah ada “hulu” dan “muara”nya, tentulah pula ada anak-anak sungainya. Demikian pula dengan “tarandam” .  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Minangkabau | Meninggalkan komentar

Pohon Ranji Silsilah Keturunan Raja-Raja Kerajaan Kesultanan Indrapura


Naskah Ranji Silsilah Keturunan Kerajaan Kesultanan Indrapura ini, isinya terdiri atas beberapa bagian, antara lain :

1. Kepala Ranji
Kepala ranji dimulai dari nama : 

Sulthan Jamalul Alam, 
Yang Dipertuan Daulat Khalifatullah, 
Iskandar Alam Ibnu Adam Alaihis Salam, menurunkan : 

Sulthan Maharajo Alif, Kerajaan Di Banua Ruhum, 
Sulthan Maharajo Depang, Kerajaan di Tibet Banua Cina, dan 
Sulthan Jamalul Alam Daulat Yang Dipertuan Sri Maharajo Dirajo, Kerajaan di Pulau Linggapuri, dekat Kaki Gunung Marapi. 

Dari Sulthan Sri Maharajo Dirajo ini, kemudian diturunkan Sultan Nan Salapan yang akan menjadi raja di rantaunya masing-masing, sesuai dengan penyebaran wilayah yang telah disebutkan dalam Tambo Sultan Nan Salapan tersebut. Dan salah seorang putranya adalah yang diturunkan kembali ke Kerajaan Kesultanan Indrapura, yakni : Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Minangkabau | Meninggalkan komentar

BASALIN BAJU PUSAKO


Basalin baju pusako 
baju tarok baju turai 
turak turang baludu gandum 
balahan baju dari sarugo 
baju gadang ninik mamak 
saluak destar pilin tigo 
pinggang memakai pending ameh 
tarsisik karih cumati intan 
saruang bapalauik jo perak 
hulu bakarang ameh mutu 
harago satimbang jo nagari.”

Bahwa bersalin baju pusaka (mewarisi pangkat kebesaran datuk peng hulu, imam, khatib, malin, pandeka dalam adat) tersebut, harganya “setim bang” dengan “negeri”. “Setimbang dengan negeri” mengandung aspek makna “awal akhir, lahir dan batin” secara utuh dan tak terpisah-pisah sebagai sebuah “perserikatan hati sebagian manusia dalam alamnya”. Meng isyaratkan adanya kaitan dengan tuah kebesaran dan nama baik negerinya sendiri. Seperti petuah mengatakan :  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Minangkabau | Meninggalkan komentar